Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Melarungkan Arang, Meluangkan Ruang

*dd nana
 

-43
Dibasuhnya lempung berwarna arang
pada tujuh sungai. Agar sedikit kilap
dihadapan yang Maha Terang.
Tapi, sepasang tangannya telah merasakan
warna arang yang hitam akan terus membayang
dalam kisah-kisahnya.
Basuhlah. Sebuah sabda menggema
saat dirinya meluangkan ruang
antara datarnya kewajiban dan secuil
kesenangan diri. 
Menggambar rupa-rupa, benda-benda dengan 
warna arang yang menetes dari setiap jemarinya
pada setiap helai dedaun hijau dan sayap
para burung yang mengepakkan dzikir.
Basuhlah! Gema sabda kembali menggaung.
Dan luangkan ruang.
Agar nafas kembali wangi serupa 
bau ilalang, tanah yang disetubuhi hujan
atau warna cinta yang menemukan rumahnya;
dada pecinta paling lapang.
Basuhlah !!
Sebelum kau kembali pulang
dan menuliskan kisah protes paling
telanjang.
 

44-
Luangkan ruang, sayang
agar sesak ini tak terlalu panjang.
Longgarkan ikrarmu
hingga rindu bisa sedikit bernafas
sekadar menghidu aroma rambut
dan nafasmu yang memanjangkan kisah
kita.
Luangkan ruang, sayang
agar bisa aku larungkan segala
tuba, hingga aku bisa kembali
pulang pada tubuhmu yang kusebut
rumah itu.
 

*hanya penikmat kopi lokal