Suasana salah satu rangkaian hari TBC sedunia dari Dinkes Kota Malang. (Foto: Dokumentasi Dinkes Kota Malang)
Suasana salah satu rangkaian hari TBC sedunia dari Dinkes Kota Malang. (Foto: Dokumentasi Dinkes Kota Malang)

MALANGTIMES - Tuberculosis atau TBC hingha saat ini masih menjadi salah satu momok penyakit di Indonesia. Di Kota Malang, upaya menanggulangi penyakit tersebut masih terus digencarkan.

Tak dapat dipungkiri, masih banyak ditemui masyarakat yang abai akan penyakit TBC. Padahal, jika diketahui gejala dan proses pengobatannya dengan sesuai penyakit tersebut bisa disembuhkan.

Karenanya, menyambut hari TBC sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2020 mendatang, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menggelar berbagai kegiatan penyuluhan.

Mengambil tema 'Saatnya Anak Indonesia Bebas TBC, untuk Indonesia Unggul', tempat-tempat yang disasar, mulai dari sekolah, kader Ketuk Pintu TB-Care Aisyiyah, hingga kader kesehatan muslimat NU.

"Beragam penyuluhan dan promosi preventif kita lakukan dalam menyambut hari TBC sedunia. Salah satunya melalui kader Ketuk Pintu TB-Care Aisyiyah untuk ikut serta menanggulangi TBC di masyarakat," kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Bayu Tjahjawibawa, Jumat (20/3).

Dijelaskan, keterlibatan kader Ketuk Pintu TB-Care Aisyiyah ini sebagai salah satu upaya untuk memberikan informasi dan mendata pasien TBC yanga ada di Kota Malang. Yakni, dengan sistem jemput bola mendatangi setiap rumah.

Terlebih, jika hal itu terjadi pada anak-anak, maka kader tersebut yang melakukan pemeriksaan awal dengan memberikan informasi pengobatan.

"Misal ada pasien TBC itu didatangi, yang serumah dengan pasien juga diperiksa. Karena kan salah satu penularannya melalui kontak erat, terutama sekarang jika ada anak-anak yang di satu rumah menderita TBC maka juga didatangi," jelasnya.

Menurut Bayu, saat ini masih banyak dari masyarakat Kota Malang yang sulit untuk memeriksakan kondisi tubuhnya. 

Bahkan, ada juga dari sebagian orang yang merasa ketika anaknya terlihat sehat tak diperbolehkan untuk dilakukan pemeriksaan, padahal dalam satu rumah ada yang menderita TBC.

"Karena orang tua biasanya enggak mau, anaknya sehat di suruh minum obat. Justru itu yang kalai kelewatan nanti malah bahaya, kalau anaknya kena (penyakit TBC) kasian nanti masa depannya suram," terangnya.

Melalui penyuluhan ke berbagai tempat itulah, pihaknya berharap segala informasi mengenai TBC bisa dipahami masyarakat. Sehingga, bisa dilakukan pencegahannya sejak sedini mungkin.

"Karena perhatian akan pencegahan TBC ini memang harus dilakukan sedini mungkin. Kalau misalnya diperiksakan ada indikasi positif, dan mau berobat Insya Allah dua minggu akan sembuh," tandasnya.

Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi akibat bakteri mycobacterium tuberculosis. Biasanya, penyakit ini menyerang paru-paru. Tapi bisa juga menyebar ke tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat, jantung, dan organ tubuh lainnya. 

Penyakit ini mudah menular, yakni melalui udara ketika berhadapan dengan seseorang yang terinfeksi TBC. Misalnya saat si penderita sedang batuk, atau bersin. Karenanya penderita juga kerap dianjurkan untuk selalu mengenakan masker.