Ilustrasi salat Jumat. (Foto: istimewa)
Ilustrasi salat Jumat. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) telah menegaskan, salat Jumat sebaiknya ditangguhkan untuk daerah-daerah terjangkit virus Corona atau Covid-19. Dengan demikian, salat jumat bisa diganti dengan salat Zuhur.

Akan tetapi, jika suatu daerah terpaksa masih menyelenggarakan salat Jumat, Ketua PBNU Bidang Kesehatan dr Syahrizal Syarif menjelaskan beberapa langkah medis yang harus dilakukan oleh para jamaah.

Baca Juga : Kisah Lucu Umar bin Khattab Protes Kebijakan Mualaf yang Pimpin Peperangan

"Membawa sajadah masing-masing, khotbah harus dipersingkat, menyediakan hand sanitizer, dan harus menjaga jarak (karena dalam kondisi darurat)," ujar Syahrizal dalam rilisan resmi PBNU.

Pelaksanaan ibadah seperti ini, kata Syahrizal perlu mendapat pemantauan dari pemerintah daerah dan terus berupaya memberikan pemahaman. Pemantauan tersebut juga perlu dilakukan di tempat-tempat ibadah lainnya.

"Kebijakan peniadaan sementara untuk ibadah di masjid perlu diterjemahkan bahwa pemerintah daerah harus memantau, terutama provinsi-provinsi yang terjangkit. Itu harus dipantau, bagaimana pelaksanaan di masjid-masjid,” kata dokter ahli epidemiologi ini.

"Pelaksanaan shalat Jumat minggu ini misalnya, itu harus dipantau, apakah kebijakan menjaga jarak itu dilaksanakan atau tidak. Dan yang paling ekstrem adalah tidak menyelenggarakan shalat jumat," imbuhnya.

Baca Juga : Menag Minta Tarawih Dilakukan di Rumah, Salat Id Ditiadakan, dan Halal Bihalal Online

Sebagai tambahan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 14 Tahun 2020. Salah satu fatwanya, jika berada di daerah yang rawan dan menurut otoritas medis dan pemerintah yang dipercaya rawan dan bahaya dengan penularan penyakit, maka boleh tidak melaksanakan salat Jumat.