Ilustrasi fatwa MUI (istimewa/Net)
Ilustrasi fatwa MUI (istimewa/Net)

MALANGTIMES - Dampak mewabahnya virus corona memang luar biasa. Bukan hanya sektor ekonomi maupun kesehatan, bahkan efeknya juga berimbas pada hal spiritual. 

Di Indonesia, gegara covid-19, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah covid-19.

Baca Juga : Sehari 9 Korban Covid-19 di Surabaya Meninggal, Gubernur Minta Contoh Magetan Tekan Kasus

Dalam ketetapan fatwa tersebut, terdapat empat poin. Mulai dari ketentuan umum tentang apa itu virus corona, ketentuan hukum tentang apa yang harus dilakukan masyarakat,  rekomendasi  terhadap pemerintah, hingga ketentuan penutupan dengan mulai memberlakukan fatwa tersebut.

Salah satu poin dalam fatwa yang diterbitkan MUI pada Senin (16/3/2020) itu menyebutkan tidak memperbolehkan menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran covid-19. Hal itu tentunya merujuk pada ibadah secara jamaah, seperti salat salat lima berjamaah,  salat Tarawih, dan Id di masjid atau tempat umum lainnya, termasuk  menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

Bukan hanya itu. Salat Jumat pun dalam fatwa tersebut juga diimbau untuk tidak dilakukan dan menggantinya dengan salat Duhur di rumah masing-masing. 

Namun hal tersebut ditujukan bagi mereka yang memang kawasan atau daerahnya berpotensi tinggi dalam penularan covid-19. Dan sebaliknya. untuk di daerah yang memiliki potensi rendah penularan penyakit tersebut, warganya tetap wajib menjalankan kewajiban salat Jumat seperti biasa serta tetap menjaga diri dan mengantisipasi covid-19.

"Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan salat Duhur di tempat kediaman," kata Hasanuddin AF dari Komisi Fatwa MUI.

Selain perihal pelaksanaan ibadah, dalam fatwa tersebut juga dianjurkan untuk bagaimana pemandian jenazah yang sebelumnya terpapar covid-19 agar tetap sesuai syariat Islam serta tetap menjaga agar mereka yang memandikannya tidak terpapar virus tersebut.

Dalam fatwa MUI tersebut juga disinggung mengenai haramnya hal yang menimbulkan kepanikan atau hal yang merugikan publik. Misalnya dengan melakukan penimbunan alat-alat kesehatan dan barang pokok serta
mengharamkan adanya penyebaran informasi-informasi hoax.

Sementara itu, rekomendasi dalam fatwa MUI tersebut terdapat tiga poin. Yakni mengharuskan pemerintah untuk wajib melakukan pembatasan superketat terhadap keluar-masuknya orang dan barang ke dan dari Indonesia kecuali petugas medis dan barang kebutuhan pokok serta keperluan emergency.

Kemudian, umat Islam wajib mendukung dan menaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar covid-19 agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.

Dan yang terakhir, masyarakat hendaknya proporsional dalam menyikapi orang yang suspect atau terpapar covid-19. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan bisa menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan atau dinyatakan sudah sembuh ke tengah masyarakat serta tidak memperlakukannya secara buruk.

Fatwa sendiri mulai berlaku sejak ditetapkannya fatwa tersebut. Dan diharapkan umat muslim untuk menaaati dan menyebarluaskannya. "Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan covid-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya," kutip salah satu poin yang ada dalam fatwa pada hal rekomandasi.

Ketua MUI Kota Malang KH Baidowi Muslich ketika dihubungi wartawan media ini perihal fatwa yang dikeluarkan MUI Pusat ini masih belum tersambung.

Berikut ini isi lengkap dari ketentuan hukum Fatwa MUI Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid 19.

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENYELENGGARAN IBADAH DALAM SITUASI  
TERJADI WABAH COVID-19

Pertama : Ketentuan Umum

Baca Juga : Pasien Positif Covid-19 Meningkat, Polres Malang Ancam Warga yang Tolak Pemakamannya

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan : 
COVID-19 adalah coronavirus desease, penyakit menular yang  disebabkan oleh coronavirus yang ditemukan pada tahun 2019.

Kedua : Ketentuan Hukum

1. Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

2. Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan  
banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di  
masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

3. Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak  terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai  
berikut:

a. Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan 
ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh  
meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

b. Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

4. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang  
melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

5. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

6. Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan COVID-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya.

7. Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.  Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

8. Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau  
menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan/atau menimbun bahan kebutuhan pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait COVID-19 hukumnya haram.

9. Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu,memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya ( daf’u al-bala’), khususnya dari wabah COVID-19.