Sepinya salah satu lapak pedagang soto di area CFD Kota Malang, Minggu (15/3) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Sepinya salah satu lapak pedagang soto di area CFD Kota Malang, Minggu (15/3) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meluasnya kasus virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, memang menjadikan beberapa wilayah seperti Surabaya, Semarang, bahkan Solo menutup kegiatan mingguan Car Free Day (CFD).

Namun, hal itu tidak berlaku di Kota Malang. Sebab, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tak ingin menyebabkan kepanikan berlebih akan penanganan virus yang muncul sejak Desember 2019 lalu di Wuhan, China.

Meski event mingguan tempat berkumpulnya masyarakat di Kota Malang untuk olahraga atau sekedar jalan-jalan sambil menikmati sajian kuliner hari ini (Minggu, 15/3) tetap dibuka, namun suasananya tampak berbeda.

Jumlah warga yang datang untuk menikmati kesegaran pagi di sepanjang Jalan Ijen tak begitu banyak seperti biasanya. Bahkan, beberapa pedagang merasa penjualannya hari ini berkurang.

Salah seorang penjual Soto, Andre mengaku jualannya kali ini terbilang sepi dari biasanya. Hal itu, terlihat dari minat pengunjung yang menurun.

"Ini termasuk sepi, biasanya jam 07.00 saja sudah banyak yang beli. Ini setelah jam 07.00 masih selow, nggak tahu nanti habis berapa porsi," ungkapnya.

Menurut dia, penjualan yang relatif sepi ini dimungkinkan karena ada penutupan CFD di beberapa wilayah lainnya. Ia berharap, pemerintah segera mencarikan solusi akan kasus penyakit virus Corona yang meresahkan publik tersebut.

"Ya mungkin karena di kota lain ada penutupan ya. Harapannya, apa yang membuat kami resah ini terkait dengan berita virus segera tertangani dan ada solusinya. Karena tempat keramaian sumber yang paling ditakutkan orang, kalau bersentuhan kemungkinan apa itu tertularnya di keramaian ini," jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh penjual Takoyaki, Lina. Ia mengatakan, kemunculan virus Corona yang sudah menyebar ke Indonesia memang berdampak pada hasil jualannya.

Pengunjung di CFD terbilang lebih sepi, apa yang dijualnya juga tidak signifikan. Jika biasanya pagi hari sekitar pukul 07.00 - 08.00 bisa menghabiskan hampir 50 sampai 100 box, kali ini berkurang jauh. "Jauh sekali, biasanya 100 box, ini tadi 50 box saja belum," jelasnya.

Meski begitu, jika kebijakan pemerintah memang akan melakukan penutupan sementara, dirinya kooperatif menerimanya. Karena, tak dapat dipungkiri dengan adanya pemberitaan yang beredar banyak masyarakat yang merasa was-was untuk terlalu lama berada di keramaian.

"Kalau saya sebagai pedagang harapannya bisa kembali seperti semula. Tapi, jika memang untuk keramaiannya ditiadakan sementara ya nggak apa-apa, nanti mengikuti proses adaptasi ini seperti apa," pungkasnya.