Salah satu pedagang rempah-rempah saat menunjukkan beberapa dagangannya di Pasar Klojen, Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/ MalangTIMES)
Salah satu pedagang rempah-rempah saat menunjukkan beberapa dagangannya di Pasar Klojen, Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar hingga ke Indonesia. Merebaknya kasus penyakit yang muncul pertama kali di Wuhan, China sejak Desember 2019 lalu memunculkan fenomena pembelian kebutuhan di masyarakat secara panik atau panic buying.

Beberapa yang saat ini tengah ramai, langkanya kebutuhan masker dan hand sanitizer. Hal ini sontak membuat masyarakat gaduh, akan susahnya mendapatkan barang-barang itu yang dianggap sebagai salah satu bentuk pencegahan.

Padahal, guru besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr drh Chaerul Anwar Nidom MS menemukan cara menangkal virus Corona. Yaitu, masyarakat diimbau untuk mengonsumsi minuman yang mengandung curcumin. Yang mana, zat curcumin ini terdapat pada jahe, temulawak, kunyit, serai, dan golongan rempah-rempah lainnya.

Namun, cara penangkalan ini rupanya belum begitu menyita perhatian publik. Hingga saat ini, harga rempah-rempah yang banyak diburu di pasar tradisional tidak mengalami kenaikan.

Seorang pedagang di Pasar Klojen, Gunawan Taufik menyebut masyarakat yang membeli rempah memang kebanyakan memilih jahe. Hal itu, bukan digunakan sebagai bahan masakan melainkan untuk minuman.

"Tapi kebanyakan saat ini memang masyarakat kalau beli jahe itu pasti bilangnya buat minuman, bukan bahan masakan lagi. Tapi nggak sampai memborong," jelasnya, Rabu (4/3).

Meski begitu, bahan-bahan rempah ini rupanya tak mempengaruhi harga jual. Ia menyebut, untuk serai dibanderol dengan harga Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. Kemudian, jahe per kilogramnya masih di angka Rp 40 ribu per kilogram.

"Jahe ya memang segitu (Rp 40 ribu) saja harganya kalau per kilo. Tapi memang masyarakat banyak yang beli ya untuk kebutuhan kesehatan saat ini. Kalau serai memang stoknya lagi banyak saja," jelasnya.

Sementara di lapak lain milik Saudah, harga jahe relatif lebih mahal mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Tapi, masyarakat kebanyakan membeli kisaran seperempat atau per ons saja. Kencur Rp 80 ribu kilogram, laos Rp 30 ribu per kilogram. Harga ini dikatakannya juga stabil.

"Ya memang segitu harganya, masyarakat juga meskipun beli jarang yang kiloan. Paling cuma seperempat atau ons saja," ungkapnya.

Sementara, dijelaskannya harga bahan-bahan tradisional yang naik itu temulawak dan kunir putih yakni mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Padahal harga sebelumnya di kisaran Rp 12 ribuan per kilogram.

"Tapi ya yang paling sering dicari memang jahe. Saya bawa lima kilo sehari, itu hanya sisa sedikit," katanya.