Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

Alamatku Di Tubuhmu
*dd nana

-Segala dicatat. Mungkin untuk dikenang-

-31
Katamu : perih yang dicatatkan pada lembar kulit, kelak akan membuat parasmu bercahaya.
Hingga duka tinggal jejak-jejak memesona mata
bagi mereka yang bertanya.
Serupa kulit jeruk di makan usia, tak lagi beraroma
tapi rasa kecut manisnya akan jadi ingatan.
Kau mengusap parasmu berkali-kali
untuk mengusir jejak-jejak perih atau itu adalah ritual
doa ninabobo. Agar segala mimpi tentangnya lelap
tanpa ingatan yang menggoda.
Katanya : Ingatan itu candu yang melemahkan
membuat kau serupa Don Quixote di usia senja, mengais serpihan yang merabuk dan dihisap peristiwa.
Itu nyeri walau kau catat dalam lembaran kulit paling mempesona.
"Tapi itu indah bukan?".

32-
Nama : Luka
Usia : Separuh migrasi para burung menuju Simurgh
Alamat : Di tubuhmu.
Hari pun pecah. Cahaya melindap sebelum lenyap
hanya kita. Pencatat nyeri dan kau hamparan paling
meneduhkan. Rebah dan bersiap untuk menyalin
resah paling barah. Luka paling nganga. Rindu paling murung.
Catatlah. Agar kau bisa sesekali istirah
dan bisa melanjutkan cerita. Kulit ini untukmu, sebelum matahari kembali mencatatkan angka di almanak kamar. Mengajakku pulang.
Catatlah. Agar bisa kutemukan segala jejak ceritamu di tubuh ini.
Alamatmu adalah tubuhku, jalan pulangmu adalah aku. Walau tak bisa kau berteduh di cangkangku yang dipagari ikrar itu.
Cukup adil, lelakiku?
Nama : Luka
Pekerjaan : Petualang yang mencari jalan pulang.
Hari pecah. Tapi tak ada puisi yang lahir
karena hanya pada tubuhmu segala menepi 
walau sekali lagi aku yakin itu bukan akhir.

-33
Jangan cari alamatku
Itu sia-sia.
Hanya ingatan yang mungkin bisa mengetuk
pintu alamatku. 
Itu bila dirinya pun masih bersedia 
membukanya.
*Hanya penikmat kopi lokal