12 Ancaman Bencana Mengintai Kabupaten Malang, LPBI NU Bentuk Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana

Feb 29, 2020 21:40
Ratusan peserta saat menghadiri agenda Pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana yang difasilitasi oleh LPBI NU
Ratusan peserta saat menghadiri agenda Pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana yang difasilitasi oleh LPBI NU

MALANGTIMES - Sebanyak 12 ancaman bencana yang diakibatkan karena fenomena Hidrometeorologi berpotensi terjadi di Kabupaten Malang. Cuaca dan iklim yang berubah setiap saat, memicu terjadinya bencana mulai dari musibah yang terjadi di darat, laut, dan bahkan udara.

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim, Nahdlatul Ulama (LPBI NU), Rurid Rudianto, saat menghadiri agenda Pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana di Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Sabtu (29/2/2020).

”Agenda ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar paham cara mengantisipasi dan menanggulangi saat musibah terjadi. Soalnya di Kabupaten Malang ini berpotensi mengalami 12 kategori bencana, mulai dari longsor, banjir, dan angin kencang hingga tsunami,” jelas Rurid.

Dalam agenda yang dilangsungkan di Balai Desa Harjokuncaran ini, Rurid mengimbau kepada sekitar 150 anggota Desa Tangguh Bencana untuk mampu menganalisa musibah dan mengantisipasinya jika memang sudah terjadi bencana.

”Di Desa Harjokuncaran ini berpotensi mengalami bencana mulai dari banjir, angin kencang, longsor, kekeringan, dan gempa bumi. Sedangkan lokasinya jauh dari pusat pemerintahan di Kabupaten Malang, oleh karena itu perlu dibentuk Desa Tangguh bencana agar masyarakat mengetahui resiko bencana yang terjadi di desanya,” terang Rurid.

Baca Juga : Hari ke 2 Proses Pencarian Pendaki Hilang karena Kesurupan, Puluhan Personel Dikerahkan

Terdapat 2 strategi untuk mencegah terjadinya bencana. Dijelaskan Rurid, strategi tersebut terbagi dalam bentuk struktural dan non struktural. ”Pencegahan secara struktural ini seperti misalnya bentuk fisik bangunan yang didesain agar tahan terhadap bencana seperti gempa, angin kencang dan banjir. Sedangkan pencegahan secara non struktural meliputi pemahaman terkait tanda-tanda terjadinya musibah. Sehingga bisa meminimalisir terjadinya korban jiwa saat bencana melanda,” ungkap Rurid.

Sebagai tambahan, dalam agenda pembentukan desa tangguh bencana ini, para peserta juga menyempatkan diri untuk menanam sebanyak 500 pohon. Di antaranya pohon kelengkeng, matoa, dan sengon. ”Pohon yang ditanam ini berfungsi untuk jangka panjang guna meminimalisir terjadinya bencana,” ujar Rurid.

 

Topik
MalangBerita MalangLPBI NUfenomena Hidrometeorologi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru