Kawasan pipa bocor milik Perumda Tugu Tirta Kota Malang di Desa Pulungdowo saat ditinjau Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak belum lama ini (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kawasan pipa bocor milik Perumda Tugu Tirta Kota Malang di Desa Pulungdowo saat ditinjau Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak belum lama ini (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Jumlah pelanggan PDAM Kota Malang atau yang kini berubah nama menjadi Perumda Tugu Tirta Kota Malang terus mengalami perkembangan cukup pesat.

Dari data yang dimiliki, jumlah pelanggan perusahaan daerah milik Pemerintah Kota Malang ini naik kurang lebih 65 persen dari 2011 ke 2019.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

Dengan rincian jumlah pelanggan sebesar 106.891 pada 2011 menjadi 168.261 per 1 Desember 2019. 

Namun, dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah itu, pipa milik PDAM Kota Malang malah sering mengalami kerusakan.

Tak heran jika hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat khususnya para pelanggan yang sejak beberapa bulan terakhir mengalami krisis air. 

Tak sedikit yang mengira jika pipa yang pecah beberapa kali tersebut bukan murni bencana.

Melainkan sebuah keteledoran yang menimbulkan pengelolaan pipa tak berjalan maksimal. Terlebih, umur pipa tergolong masih muda, yaitu baru dipasang pada 2014 lalu.

Namun demikian, Direktur Perumda Tugu Tirta Kota Malang, M. Nor Muhlas menampik kabar tersebut. 

Mantan anggota DPRD Kabupaten Malang itu menyampaikan jika pecahnya pipa transmisi milik Perumda Tugu Tirta pada Januari lalu murni bencana. Bukan lantaran tekanan yang tak diatur dengan baik, dan mengakibatkan pipa pecah.

"Nggak ada masalah sama besaran tekanan. Karena tekanan yang ada selama ini ya konstan. Jadi memang ada selisih tekanan karena ketinggian untuk menuju simpar. Maka harus ganti pipa yang sesuai tekanan itu," katanya pada MalangTIMES dengan nada keras dan suara lantang.

Dia menyampaikan, aliran air yang berasal dari Sumber Pitu selama ini ditampung ke tandon yang berada di kawasan Buring, Kota Malang. 

Air akan dialirkan menggunakan gaya gravitasi yang secara tidak langsung mengakibatkan tekanan meningkat di titik pipa yang kini pecah. Pasalnya, titik tersebut dikatakan sebagai titik rawan.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

Muhlas juga menyampaikan jika selama ini kran tidak dibuka tutup begitu saja. Melainkan dibiarkan mengalir sebagaimana kebutuhan dan tekanan yang ditetapkan secara teknis. 

Dia menyebut, membuka kran saat pipa dalam kondisi kosong memang tak bisa langsung dengan tekanan tinggi.

Melainkan harus dilakukan secara perlahan untuk menghindari kontraksi. Sebab di dalam pipa juga harus terisi angin terlebih dulu. 

Setelah kondisi pipa konstan, maka tekanan akan ditambah secara perlahan  hingga pada kondisi yang tepat secara teknis. Lalu akan dibiarkan mengalir hingga ke tandon.

Dia juga menampik kabar yang menyebut jika tekanan selama ini sengaja diperbesar untuk memenuhi sambungan rumah yang semakin besar. Sehingga menyebabkan pipa tak mampu menahan tekanan dan berakhir pecah.

"Itu omongan orang bodoh. Tekanan tetap 12.  Nggak ada hubungan dengan jumlah sambungan. Konstan ditekan 12 berapapun volumenya," tegasnya lagi.

Muhlas menyebut, selama ini pemenuhan kebutuhan pelanggan selalu melalui penghitungan secara teknis. 

Ketika ada penambahan, maka jumlah kebutuhan akan dianalisa terlebih dulu. Termasuk juga memanfaatkan sumber lain untuk memenuhi kebutuhan yang ada.

"Karena jumlah air atau volume air untuk layani zona di daerah itu, sekitar itu," katanya dengan nada tinggi.