Hasto Kristiyanto Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. (Foto: Istinewa)
Hasto Kristiyanto Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. (Foto: Istinewa)

MALANGTIMES - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto memenuhi panggilan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Rabu (26/2/2020).

Dia dicecar oleh penyidik KPK dengan 14 pertanyaan yang berhubungan dengan posisi Hasto. Salah satu pertanyaan dari penyidik seputar munculnya sosok Harun Masiku yang menggegerkan publik di awal tahun 2020. Dia merupakan tersangka kasus dugaan suap PAW (Pergantian Antar Waktu) anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, yang sampai hari ini masih buron dan telah ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh pihak kepolisian. 

Hasto menyatakan, DPP PDI Perjuangan mempunyai wewenang untuk memasukkan Harun Masiku menjadi anggota DPR-RI melalui proses PAW (Pergantian Antar Waktu). Dengan dasar surat keputusan dan fatwa Mahkamah Agung.

Dalam hal ini Hasto juga menegaskan bahwa partai mempunyai daulat untuk memberikan rekomendasi kepada kadernya untuk menjadi anggota DPR-RI melalui proses PAW (Pergantian Antar Waktu). "Kursi yang dimiliki itu adalah kursi milik partai sehingga ketika ada persoalan partai punya kedaulatan," ujar Hasto usai pemeriksaan sebagai saksi di gedung KPK, seperti yang dilansir dari Kompascom.

Disinggung mengenai posisinya sebagai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan dan kedekatannya dengan Harun Masiku yang notabene maju sebagai Calon Legislatif melalui PDI Perjuangan, Hasto minim memberikan pendapat. 

Mengenai kasus tersebut, penyidik KPK yang lebih berwenang dan mengetahui persoalan tersebut. "Berkaitan dengan substansi silakan ditanyakan kepada KPK, intinya saya mengikuti seluruh proses hukum. Saya penuhi panggilan sebagai saksi itu dan saya berikan saksi dengan sebaik-baiknya," tambah Hasto setelah diperiksa sebagai saksi sekitar selama dua setengah jam.

Dalam kasus yang turut menyeret komisioner KPU (Komisi Pemilihan Umum) Wahyu Setiawan, KPK menetapkan empat orang tersangka termasuk Wahyu Setiawan, mantan calon legislatif PDI Perjuangan Harun Masiku, mantang anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina, dan dari pihak swasta bernama Saeful. 

Wahyu Setiawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga menerima suap dari Harun Masiku yang bertujuan untuk meloloskan Harun Masiku sebagai anggota DPR-RI terpilih dari PDI Perjuangan melalui mekanisme PAW (Pergantian Antar Waktu).

Pihak KPK menyebutkan bahwa Wahyu Setiawan telah menerima uang sejumlah Rp 600 juta dari Harun Masiku, serta Wahyu Setiawan disebut-sebut juga meminta uang sejumlah Rp 900 juta untuk memuluskan niat Harun Masiku tersebut.

Mengenai posisi Hasto Kristiyanto dalam kasus ini masih pendalaman lebih lanjut. Sementara ini Hasto masih ditetapkan sebagai saksi. Pemeriksaan Hasto sebagai saksi merupakan kali kedua, sebelumnya Hasto telah diperiksa oleh penyidik KPK pada hari Jum'at (24/1/2020) dalam perkara yang sama.