Pelaku pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari AKP Edi Purnama. (kiri)
Pelaku pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari AKP Edi Purnama. (kiri)

MALANGTIMES - Pihak kepolisian terus mendalami kasus penemuan bayi yang terjadi di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Setelah memburu kesaksian pelaku pembuangan bayi yang berinisial SCP, penyidik juga bakal mengorek keterangan dari pria yang dianggap telah menghamili pelaku pembuangan bayi tersebut.

”Kasusnya masih pengembangan. Semua akan dimintai kesaksiannya. Selain pelaku, tunangan dan pihak keluarga juga akan dimintai keterangan,” kata Kapolsek Wonosari AKP Edi Purnama sembari mengatakan kasus itu saat ini ditangani Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Malang.

Baca Juga : Diduga Akibat Stroke, Tahanan Kasus Judi Polsek Klojen Meningal Dunia

Menurut Edi, dimintainya keterangan pihak keluarga pelaku pembuangan bayi ini lantaran ada dugaan mempersulit pihak kepolisian saat melakukan penyelidikan. Pasalnya, baik pelaku maupun keluarganya sempat kukuh bahwa pelakunya bukanlah SCP.

”Kasusnya terbongkar setelah pelaku menjalani pemeriksaan secara medis. Setelah hasilnya keluar dan pelaku dinyatakan baru saja melahirkan, yang bersangkutan baru mengakui perbuatannya,” ujar Edi.

Sedangkan dipanggilnya YY oleh pihak kepolisian, lanjut Edi, lantaran adanya keterangan yang disampaikan SCP bahwa tunangannya tersebut menghamilinya saat dirinya masih berusia di bawah umur. ”Nanti biar penyidik yang membuktikan dugaan tersebut,” ungkap Edi.

Seperti yang sudah diberitakan, pada  2018 lalu, SCP bertunangan dengan pria yang juga tinggal di wilayah Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Dia adalah YY, pria yang saat ini bekerja di Jakarta.

Dari hasil penyidikan, SCP dan tunangannya mengaku sudah berhubungan badan sebanyak tiga kali. Pertama usai bertunangan pada 2018 lalu, tepatnya sebelum YY bekerja ke Jakarta. Kemudian pada pertengahan  2019, saat menjelang bulan Ramadan. Sedangkan yang terakhir pada akhir  2019. Saat melakukan hubungan badan yang terakhir, SCP diketahui sudah hamil.

Hingga akhirnya, pada pertengahan  Februari 2020 lalu, bayi yang dilahirkan pelaku akhirnya dibuang ke rumah tetangganya, Senin (17/2/2020) dini hari.

”Motif perbuatan pelaku ini karena yang bersangkutan malu telah hamil diluar nikah. Dari hasil penyidikan terhadap SCP, pembuangan bayi hanyalah skenario untuk menutupi kehamilan pelaku,” kata Kasat Reskrim Polres Malang AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo.

Bahkan sebelum skenarionya terbongkar, pelaku sempat ngotot ingin merawat bayi yang diakuinya telah dia temukan tersebut. Lantaran pertimbangan inilah, polisi akhirnya mengambil sikap penegakan hukum secara restoratif dan berencana mengembalikan SCP kepada keluarganya.

”Kami mempertimbangkan segi kemuliaan dan kemanfaatan hukum karena pelaku ingin bertangungjawab merawat bayinya,” terang Andaru sembari memastikan bahwa pelaku akan selalu dalam pengawasan pihak kepolisian.

Jauh sebelum mengambil langkah tersebut, penyidik juga sempat memburu keterangan dari pihak keluarga pelaku. Hasilnya, dugaan jika keluarganya mempersulit proses penyidikan terbantahkan. Pasalnya, saat pelaku menjalani penyidikan, keluarganya terbilang kooperatif.

Baca Juga : Aktor Senior Tio Pakusadewo Kembali Ditangkap karena Kasus Narkoba

”Keluarganya sudah menjalani pemeriksaan. Mereka bersedia bertanggung jawab dan merawat bayi yang dilahirkan oleh pelaku,” ungkap Andaru yang juga pernah menjabat sebagai kasat reskrim Polres Gresik ini.

Lantas bagaimana nasib YY? Perwira dengan pangkat tiga balok di bahu ini belum bisa memastikan. Sebab, pria 20 tahun itu belum dimintai keterangan lantaran masih bekerja di Jakarta.

”Kalau ke arah sana, ada (memeriksa YY), tapi sampai saat ini belum karena masih di Jakarta. Kemungkinan dalam waktu dekat ini yang bersangkutan akan kami panggil ke polres,” ucap  Andaru.

Dari informasi yang dihimpun polisi, paska-tragedi pembuangan bayi ini mencuat, kedua belah pihak -baik keluarga pelaku maupun keluarga tunangannya- bersedia untuk segera menikahkan keduanya. ”Agendanya bulan April. Tapi dipercepat setelah ada insiden ini. Kalau tidak Maret ya dalam waktu dekat ini mereka menikah,” kata  Andaru.

Langkah pertangungjawaban YY untuk menikahi dan menafkahi bayi yang dilahirkan pelaku ini disinyalir juga menjadi faktor pertimbangan polisi. ”Yang pasti masa depan bayi jadi fokus utama kami. Jika keduanya dipenjara (SCP dan YY) tentunya akan berdampak secara tidak langsung kepada bayinya,” ujar Andaru.

Dari pendalaman wartawan, dimungkinkan YY juga tidak akan ditahan. Mengingat jika pria 20 tahun itu dipenjara, maka tidak ada sosok yang menafkahi bayi yang dilahirkan oleh pelaku SCP.

”Hasil kordinasi dengan Dinsos (Dinas Sosial) dan perangkat desa, menyarankan jika SCP maupun YY dikembalikan ke pihak keluarga (tidak ditahan). Soalnya keduanya bersedia bertanggung jawab dan tidak ada unsur kesengajaan untuk membuang bayi. Hanya karena malu akhirnya membuat skenario itu (pembuangan bayi). Namun akan kami pertimbangkan langkah restoratif tersebut. Nanti hasil penyidikan seperti apa, baru kami ambil langkah selanjutnya,” pungkas Andaru.