Pelaku pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari, AKP Edi Purnama (kiri)
Pelaku pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari, AKP Edi Purnama (kiri)

MALANGTIMES - Fakta mencengangkan keluar dari penuturan SCP (inisial) warga Dusun Bumirejo, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Di hadapan petugas kepolisian, pelaku pembuangan bayi ini mengaku sudah bertunangan dengan seorang pria yang telah menghamilinya.

”Dari pengakuannya, dia (SCP) sudah pacaran lama dengan kekasihnya. Kemudian pada awal tahun 2018 lalu, keduanya akhirnya bertunangan,” terang salah satu anggota kepolisian yang enggan disebutkan namanya ini.

Berdasarkan penelusuran wartawan, pria yang menjadi tunangan dari pelaku pembuangan bayi ini berinisial YY. Bisa dibilang, pria yang saat ini berusia sekitar 20 tahun tersebut, merupakan tetangga dari pelaku SCP. Sebab tempat tinggal YY berada di wilayah Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

”Tunanganya tidak di sini (Kabupaten Malang), saat ini yang bersangkutan bekerja di Jakarta,” jelas salah satu sumber ini.

Praktis, semenjak memutuskan untuk menjalin hubungan asmara jarak jauh. Keduanya sangat jarang sekali bertemu. Namun, belakangan diketahui, sebelum menjadi pasangan LDR (Long Distance Relationship), pasangan muda mudi ini sempat melakukan perpisahan dengan cara diluar nalar.

”Pengakuannya, setelah tunangan sempat berhubungan badan sebanyak satu kali,” jelas sumber.

Beberapa bulan setelah hubungan badan tersebut, YY akhirnya hijrah ke Jakarta untuk bekerja. Setelah setahun bekerja di kota metropolitan, YY diketahui pulang ke tempat tinggalnya yang ada di Kabupaten Malang.

Mungkin karena sudah lama memendam rindu yang mendalam, keduanya akhirnya memutuskan untuk ketemuan. Tidak hanya kencan di tempat makan, SCP dan tunangannya juga sempat melakukan hubungan badan.

”Itu (hubungan badan) yang kedua terjadi sekitar bulan Mei (2019). Penuturannya saat hendak memasuki bulan puasa ramadan,” ungkap sumber.

Setelah liburan hari raya idul fitri berakhir, Y kembali ke perantauan untuk mengundi nasib. Sekitar 7 bulan kemudian, SCP mendapat kabar jika tunangannya akan pulang kampung saat pergantian tahun 2020.

”Iya, keduanya melakukan hubungan badan yang terakhir itu pas bulan Desember 2019. Tapi saat itu kondisinya dia (SCP) sudah hamil,” sambung sumber.

Menginjak usia kehamilan yang memasuki 8 bulan, SCP mulai dirundung pilu. Pasalnya, meski sudah berbadan dua, namun agenda pernikahan dengan tunangannya baru dijadwalkan berlangsung pada bulan april 2020.

Benar saja, saat memasuki usia kandungan lebih dari 9 bulan, SCP mulai merasakan kontraksi. Puncaknya, pada 17 Februari lalu, si jabang bayi akhirnya terlahir. Mirisnya, karena merasa malu, SCP memilih untuk melahirkan di kamar mandi rumahnya dengan tanpa adanya bantuan dari dokter maupun bidan setempat.

Meski demikian, bayi dan ibunya berhasil selamat walaupun SCP sempat mengalami pendarahan hebat. ”Kalau dari pengakuannya, dia (SCP) merasa malu karena belum nikah tapi sudah lahiran. Akhirnya melakukan skenario itu (pembuangan bayi),” ujar sumber.

Seperti yang sudah diberitakan, skenario pembuangan bayi yang dilakukan pelaku ini dilakukan sesaat setelah proses persalinan berlangsung. Tepatnya pada hari Senin (17/2/2020) dini hari.

Dimana, usai melahirkan bayinya pelaku bergegas membersihkan jarik dan perlengkapan persalinan lainnya yang telah berlumuran darah. Setelah itu, bayi berjenis kelamin laki-laki yang telah dilahirkannya dimasukkan kedalam kardus yang kemudian diletakkan di halaman samping rumahnya.

Kebetulan, rumah kosong tempat meletakkan bayi SCP tersebut adalah milik Kasun (Kepala Dusun) di tempat tinggal pelaku. Dengan mengajak adiknya, remaja belasan tahun ini kemudian membuat suara gaduh seperti kucing yang sedang berkelahi.

Hal itu dilakukan untuk memuluskan skenario yang disusun jika seolah-olah memang ada bayi yang terbuang. Tidak lama setelah itu, SCP membuat pengakuan kepada warga jika suara kucing itu merupakan tangisan bayi yang ditemukannya di halaman rumah kosong disamping tempat tinggalnya.

Skenario yang dibuat pelaku ini tidak bertahan lama. Sehari kemudian (Selasa 18/2/2020), petugas Polsek Wonosari yang menangani kasus ini berhasil menguak drama yang dibuat pelaku pembuangan bayi tersebut.

Dugaan jika SCP adalah pelaku pembuangan bayi diperkuat polisi dengan adanya keterangan dari pihak medis. Dimana, petugas menemukan fakta jika SCP memang baru saja melahirkan bayi.

Tidak lama setelah menjalani penyidikan di Polsek Wonosari, kasusnya akhirnya dilimpahkan ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Malang.

Belakangan diketahui, dari hasil penyidikan polisi, SCP mengaku jika dirinya tidak ada niatan untuk benar-benar membuang darah dagingnya. Dia berdalih malu telah hamil diluar nikah, sehingga terpaksa membuat skenario tersebut.

Bahkan, jika kasusnya tidak terbongkar, SCP rencananya akan merawat bayinya dan membesarkannya bersama dengan tunangannya yang bakal menikah pada bulan April mendatang.

Namun, karena kejadian ini terbongkar aparat kepolisian. Pihak keluarga akhirnya sepakat jika agenda pernikahan putra putri mereka diajukan.

Berawal dari penemuan inilah, wartawan kemudian mencari kebenarannya kepada Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo. Kepada wartawan, perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini membenarkan fakta yang dihimpun media online ini.

”Saya meski ngomong gimana ya, tapi dari pengakuan pelaku memang seharusnya bulan April (menikah). Tapi karena kasus ini, pernikahannya akhirnya dimajukan. Tidak tau kapannya, mungkin bulan maret atau dalam waktu dekat ini,” jelas Andaru.

Pihaknya menambahkan, meski dikabarkan bakal menikah, namun kasus yang menjerat SCP tetap dalam pengawasan pihak kepolisian. ”Kasusnya masih dalam proses pendalaman, namun yang pasti kami akan mempertimbangkan kondisi dan masa depan bayi yang telah dilahirkan pelaku,” ujar Andaru.