Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unikama Dr Mujiono MPd memberi selamat kepada salah satu peraih IPK tertinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unikama Dr Mujiono MPd memberi selamat kepada salah satu peraih IPK tertinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) meyudisium 110 mahasiswa semester ganjil 2019-2020, Kamis (20/2/2020). Prosesi acara dipusatkan di Auditorium Multikultural Unikama.

Dekan FBS Unikama Dr Mujiono MPd mengatakan, 110 mahasiswa itu terdiri atas 48 mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, 48 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan 14 mahasiswa Sastra Inggris.

"Keseluruhan itu untuk IPK tertinggi
diraih oleh Saudara Meldi dengan IPK 3.92. Luar biasa menurut saya," timpal Muji.

Meldi atau yang bernama lengkap Meldiana Ayu Restanti berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3.92 (148 SKS). IPK tertinggi kedua diraih oleh Ratih Kusuma Kristianti dari Sastra Inggris dengan IPK 3.83 (154 SKS). Urutan ketiga diduduki Anisa Ayu Fitnia dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3.68 (151 SKS).

"Dengan IP itu, harapan kami mereka nanti lulusnya bukan hanya mengandalkan dari kemampuan akademik saja, tapi dari segi soft skill juga harus diperhatikan," katanya.

Hal ini dikarenakan dunia kerja tidak hanya mementingkan kemampuan hard skill saja, namun juga soft skill. Dalam hal ini, skill komunikasi perlu ditingkatkan.

"Karena untuk menghadapi tantangan dunia kerja itu dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan bagus. Kemudian bisa kerja sama atau team working yang bagus. Di samping juga harus tetep ada pengembangan berkarakter," paparnya.

Untuk menghadapi tantangan ke depan, khususnya di era industri 4.0, FBS sudah mempersiapkan calon lulusannya untuk terampil. Ada beberapa mata kuliah yang memang disediakan untuk menghadapi dunia kerja.

"Di samping memang yang di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sudah kami persiapkan menjadi guru yang profesional untuk menghadapi itu," imbuhnya.

Mahasiswa prodi pendidikan tersebut telah diberikan pelatihan-pelatihan berbasis teknologi, seperti pembelaran e-learning, multimedia, bahan ajar berbasis digital, dan lain sebagainya.

FBS juga sudah bekerja sama dengan dunia industri, khususnya di pariwisata dan perhotelan. "Dengan harapan, nanti kalau mereka terjun di industri itu mereka tidak canggung lagi. Mereka sudah piawai, sudah sangat terbiasa. On the job training kita pun sudah kita arahkan ke sana," paparnya.

Untuk sementara ini, pelaksanaan on the job training dilakukan 2-3 bulan. Namun ke depan paling tidak bertambah sampai 3 semester.

"Menyambut (kebijakan) Kemendiknas, paling nggak nanti 3 semester belajar di luar kampus, 1 semester belajar di lintas prodi. Kami sudah siapkan itu dan kita sudah siap," ucapnya.

Tak hanya menyiapkan mahasiswa di era industri, dosen-dosen FBS juga dipacu untuk mengarah ke pembelajaran e-learning. Untuk tahun 2018, pembelajaran daring dilakukan kurang dari 50 persen.

"Mau tidak mau 2020 ini paling ndak 65-75 persen dosen-dosen sudah menerapkan spada maupun e-learning. Sudah kita berikan pelatihan sehingga saya yakin mungkin dosen pun sudah siap," tandasnya.