Tersangka kasus pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari, AKP Edi Purnama (kiri). (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Tersangka kasus pembuangan bayi (kanan) saat diinterogasi Kapolsek Wonosari, AKP Edi Purnama (kiri). (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Petugas kepolisian sempat dibuat geram dengan sikap SCP (inisial) warga Dusun Bumirejo, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Pasalnya, wanita 18 tahun ini sempat berdalih dan tidak bersedia mengakui perbuatannya, jika dirinya merupakan pelaku pembuangan bayi.

Baca Juga : Warga Tangkap Pelaku Pencurian Sepeda Motor di Kota Batu

”Sejak Senin (17/2/2020) malam pelaku sudah kami amankan, tapi tetap tidak mau mengakui perbuatannya. Sehari setelah menjalani pemeriksaan intensif, yang bersangkutan akhirnya mengakui perbuatannya yang telah membuang bayinya,” kata Kapolsek Wonosari, AKP Edi Purnama.

Seperti yang sudah diberitakan, SCP ini mengaku telah menemukan bayi di rumah kosong yang ada di sekitar tempat tinggalnya, Senin (17/2/2020) dini hari.

Bayi tersebut pertama kali ditemukan di halaman rumah kosong milik Kasun (Kepala Dusun) Bumirejo. Bayi berjenis kelamin laki-laki ini, hanya dibalut dengan kain jarik dan diletakkan di dalam kardus. 

Kondisinya memperihatinkan, terdapat bercak darah sisa persalinan yang mulai mengering. Selain itu, ari-ari (plasenta) dari bayi tersebut juga masih menempel di tubuh mungilnya.

Perangkat desa beserta warga setempat akhirnya melaporkan kasus penemuan bayi tersebut ke pihak kepolisian. Selain melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), anggota Mapolsek Wonosari yang menangani kasus ini juga langsung membawa bayi malang tersebut ke Puskesmas setempat.

Di sisi lain, polisi harus mengulang hasil olah TKP selama beberapa kali untuk menguak siapa pelaku pembuangan bayi tersebut. Setelah menemukan adanya beberapa kejanggalan, SCP yang semula berstatus sebagai saksi lantaran orang pertama yang menemukan bayi, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

”Pihak keluarga maupun pelaku sendiri sempat tidak mau mengaku. Akhirnya kami bawa ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan medis. Hasilnya, dia (SCP) diketahui baru saja melahirkan,” terang Edi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan, petugas medis serta perawat dari Puskesmas Wonosari yang melakukan pemeriksaan terhadap SCP, menemukan sedikitnya 5 bukti yang mengarah jika perempuan belasan tahun itu baru saja melahirkan.

Baca Juga : Keluarkan Surat Edaran, Mulai Besok Bupati Malang Minta Warga Tidak Keluar Rumah

Di antaranya adalah ditemukannya luka bekas persalinan di organ kewanitaan SCP. Selain itu, kondisi kandungan rahim pelaku juga mengalami bengkak. Hal itu dimungkinkan karena proses persalinan yang dilakukan tanpa adanya penanganan dari dokter maupun bidan. Sebab, dari hasil penyidikan polisi, SCP memang melahirkan secara manual di kamar mandi rumahnya.

Dari segi fisik, petugas medis juga menduga jika pelaku SCP tersebut baru saja hamil dan menjalani proses persalinan. Pasalnya, payudara tersangka membesar secara alamiah seperti yang dialami wanita yang mengandung dan usai melahirkan bayi pada umumnya.

”Akibat kondisinya tersebut, pelaku sempat mengalami pendarahan. Tapi yang bersangkutan berdalih jika dirinya telah menstruasi, padahal pas diperiksa petugas medis darah yang keluar itu luar biasa (banyak),” jelas Kapolsek Wonosari.

Lantaran terus berkelit, lanjut Edi, polisi sempat hendak melakukan tes DNA guna memastikan jika bayi yang ditemukan SCP merupakan putra kandungnya. ”Sehari setelah menjalani serangkaian tes medis, pelaku akhirnya mengaku jika bayi yang ditemukannya adalah anak kandungnya,” sambung Edi, sembari mengatakan jika skenario yang dibuat pelaku tersebut untuk menutupi jika dirinya telah hamil di luar nikah.

Guna kepentingan penyidikan, kasus inipun akhirnya dilimpahkan ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polres Malang). Selasa (18/2/2020) siang, Kanit Unit PPA Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana beserta rombongan membawa pelaku SCP beserta anaknya yang sempat dirawat di Puskesmas, ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kanjuruhan, Kepanjen.

”Kasusnya masih dalam tahap penyidikan, kami masih melakukan pendalaman dan menunggu hasil visum dari rumah sakit,” ujar salah satu penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Malang kepada wartawan.