Dianita Asmaningtyas (tengah) ditemani ke dua orangtuanya (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Dianita Asmaningtyas (tengah) ditemani ke dua orangtuanya (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Sebanyak tujuh warga Malang Raya baru saja kembali menginjakkan kakinya ke Bhumi Arema pascamenjalani karantina di Natuna selama 14 hari. Ke tujuh warga itu pun sudah kembali berkumpul bersama sanak saudaranya sejak Sabtu, (15/2/2020) kemarin malam. Raut wajah lega dan kebahagiaan pun terpancar dari mereka yang dapat kembali ke tanah air.

Salah satunya dirasakan mahasiswa Central China Normal University (CCNU) sekaligus warga Kecamatan Klojen, Kota Malang, Dianita Asmaningtyas. Meski lelah telah melalui perjalanan jauh, Nita panggilan akrabnya tetap tampak sumringah ketika bisa melalui kesempatan sore hari bersama ayah, ibu, dan kakaknya.

MalangTIMES pun berkesempatan mengunjungi langsung Nita di kediamannya, Minggu (16/2/2020). Dengan wajah sangat sumringah, Nita menceritakan semua pengalamannya saat masih berada di Wuhan City, pusat kota yang dikabarkan menjadi penyebab utama penyebaran virus korona.

Dengan energik, perempuan berambut pendek ini memulai ceritanya dengan aktivitas yang ia lakukan saat sudah sampai di Kota Malang. "Tadi udah jalan-jalan keluar mbak, nemenin ayah sama mama ke sebuah acara," katanya dengan antusias saat ditemui di ruang tamu rumahnya.

Nita bercerita, dia baru kembali menginjakkan kakinya di Wuhan untuk mengenyam pendidikan di CCNU sejak September 2019 lalu. Sebelumnya, ia juga sempat mengenyam pendidikan di kampus yang sama dalam progam yang dia ikuti dengan rentang waktu satu tahun.

"Jadi lulus dari Ma Chung saya ikut program di CCNU satu tahun. Di sana ada  program S2 dan S3, dan saya disarankan untuk lanjut. Akhirnya saya memutuskan untuk lanjut dan lolos," kenangnya.

Saat kembali ke Wuhan pada September lalu, Nita sama sekali merasa tak ada yang janggal. Dia memulai studinya dengan normal seperti layaknya mahasiswa pada umumnya. Pada Desember, dia mendengar jika di Wuhan terdapat sebuah wabah yang sempat dikira sebagai wabah sars.

"Saat itu saya telepon mama, kasih kabar kalau ada sars di China," katanyan

Namun kondisi saat itu masih sangat stabil. Sehingga dia dan teman-temannta masih bisa beraktivitas di luar ruangan untuk jalan-jalan atau sekedar berbelanja kebutuhan makan sehari-hari. Kondisi itu mengalami perubahan saat pemerintah China mengumumkan jika Wuhan terserang virus Corona pada Januari lalu.

Saat itu, pengamanan ketat mulai dilakukan pemerintah setempat. Mahasiswa, masyarakat asing, dan masyarakat setempat sudah diminta untuk mengurangi aktivitasnya di luar ruangan. Namun saat itu ia masih bisa membeli kebutuhan pokok dari toko yang ada di sekitar kampus sekitar dua hari sekali.

"Saya keluar harus pakai masker dobel. Dan setiap hari saat masih ditinggal di apartemen kampus, kami diperiksa suhu secara berkala pagi dan malam," tambahnya.

Lebih jauh dia bercerita, saat pemerintah China menutup semua akses keluar dan masuk (lock down), ia akhirnya sama sekali tak bisa beraktivitas di luar ruangan. Meski begitu, sederet bantuan banyak didapatkan dari pemerintah setempat dan pemerintah Indonesia.

"Awalnya memang sangat panik, tapi karena ada bantuan dari pemerintah akhirnya kami merasa tenang. Kebetulan saat itu memang musim dingin, jadi kampus sepi dan memang sedang hari libur," terang dia.

Nita juga bercerita jika saat libur kuliah, ia memiliki niatan untuk pulang ke Indonesia. Namun saat itu ia mengurungkan niatnya. Pasalnya, libur yang terlaksana tak lama, dan ia sudah harus dijadwalkan kembali belajar pada pertengahan Februari 2020.

Karena tak jadi pulang, ia pun berniatan untuk melancong ke beberapa daerah di China. Namun rencananya untuk melancong juga harus ia urungkan. Karena Wuhan di lock down akibat penyebaran virus korona.

"Semua transportasi dinonaktifkan, jadi saya cancel perjalanan saya saat itu," terang Nita.

Dia juga menyampaikan jika saat masih berada di Wuhan ia tak merasa begitu panik. Pasalnya, pemerintah memberi dukungan yang luar biasa berupa kebutuhan makanan dan lain sebagainya. Sehingga setiap hari ia dan rekan-rekannya bisa menunggu di dalam apartemen yang ada di dalam lingkup kampus.

"Saat itu kami dilarang makan seafood. Jadi kami makan sayur, kadang juga daging ayam. Tapi beli yang frozen gitu," kenangnya.

Sedangkan untuk menghilangkan rasa penat, ia pun melukis dan bermain gitar di dalam apartemen yang ia tempati. Bahkan di hari pertama lock down, ia masih menonton sebuah film yang bercerita tentang virus.

"Saya sama temen saya sempat menonton film yang bercerita tentang virus saat itu. Tapi kami buat enjoy saja," tambah Nita.

Saat masih berada di Wuhan, komunikasi yang dikakukan dengan orangtuanya pun terbilang lancar. Meski saat awal-awal ia susah dihubungi oleh orangtua. Namun komunikasi melalui WhatsApp dan video call akhirnya dilakukan setiap sore hari. Dia juga terus berusaha menenangkan orangtua dan keluarganya.

Selama beberapa hari lock down, ia masih terus berkomunikasi dengan keluarga juga koordinator mahasiswa. Hingga akhirnya dia dan teman-temannya dipulangkan oleh Pemerintah Indonesia. Dia pun sangat bersyukur sekaligus berterima kasih. Karena ia dipulangkan dan dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Saat mendapat kabar akan dipulangkan, ia menyampaikan kabar baik tersebut kepada ke dua orangtuanya. Hingga pada akhirnya pada awal Februari lalu ia dan rekannya tiba di Batam dengan selamat. Selanjutnya diterbangkan untuk melaksanakan karantina selama 14 hari di Natuna.

"Di sana kami mendapatkan perlakuan dan fasilitas yang luar biasa. Bapak-bapak petugas begitu luar biasa menemani kami," imbuh Nita.

Selama masa karantina, perempuan kelahiran 1995 itu bercerita jika ada banyak aktivitas yang dilaksanakan. Mulai dari olahraga bersama hingga karaoke untuk menghilangkan penat. Dia pun merasa sama sekali tak terisolir ataupun stress selama masa karantina.

"Kami cek kesehatan pagi dan malam. Olahraga di pagi hari, ada kelas belajar bahasa inggris juga, kalau bosen diajak karaoke. Kami makan tiga kali sehari dengan menu sehat," tambah Nita.

Meski hanya 14 hari, rasa kekeluargaan ia rasakan begitu kental. Para petugas dari TNI AL, TNI, AD, TNI AU, hingga tim medis dan pemerintah memiliki kedekatan yang luar biasa. Berbagai fasilitas pun diperoleh selama proses karantina berlangsung.

"Awal-awal kami cuci baju manual mbak, tapi beberapa hari kemudian mesin cuci didatangkan. Fasilitas yang diberikan kepada kami sangat luar biasa," ceritanya lagi.