Debu atau tanah yang dibawa angin berada di langit Kecamatan Bumiaji, Minggu (17/11/2019) pagi. (Foto: Istimewa)
Debu atau tanah yang dibawa angin berada di langit Kecamatan Bumiaji, Minggu (17/11/2019) pagi. (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES -  Beberapa bencana kerap terjadi di Kota Batu, mulai tanah longsor, angin kencang, banjir, dan lain-lain. Bencana itu pun mengakibatkan korban jiwa maupun material. Untuk mengantisipasi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menyiapkan lima desa/kelurahan dengan status Destana.

Pemkot Batu juga mengucurkan anggaran Rp 200 juta untuk merealisasikan program tersebut. Destana atau Desa Tangguh Bencana, merupakan desa/kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.

Baca Juga : Bantuan Pangan Non Tunai di Kota Batu Sudah Cair, Berikut Jadwal dan Lokasi Tokonya

“Setiap tahun kita targetkan beberapa desa memiliki Destana. Namun tahun 2020 ini kita mentargetkan ada 5 desa/kelurahan di Kota Batu,” ungkap Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho.

Lima desa/kelurahan bakal berstatus Destana yakni Desa Giripurno, Desa Sumberejo, Kelurahan Songgokerto, Desa Sidomulyo dan Desa Bulukerto. Dipilihnya empat desa dan satu kelurahan tersebut karena beberapa waktu sering terjadi bencana.

“Melihat lima desa satu kelurahan ini sering terjadi bencana. Mulai dari tanah longsor, dan banjir, sehingga penting untuk berstatus Destana,” katanya.

Ia menjelaskan Kota Batu rawan akan bencana, tanah longsor, angin kencang, dan banjir. Sehingga penting dalam sebuah desa/kelurahan berstatus Destana di masing-masing desa.

Dengan demikian nantinya warga di sana bisa tanggap menanggulangi bencana sehingga korban dapat diminimalkan.

Baca Juga : 4.866 Keluarga Penerima Manfaat di Kota Batu Terima Bantuan Pangan Non Tunai Rp 200 Ribu

Menurutnya dengan status Destana itu, tim BPBD Kota Batu akan memberikan pelatihan. Mulai dengan memberikan materi berupa pemahaman dasar teknik fasilitasi masyarakat.

“Sedangkan materi utama seperti pengkajian risiko bencana, bahaya hingga analisis tingkat risiko bencana ikut diberikan,” jelas Gatot.

Sementara itu untuk mempersiapkan destana itu, masing-masing desa/kelurahan membutuhkan anggaran Rp 40 juta.