Lahan Pertanian di Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)
Lahan Pertanian di Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)

MALANGTIMES - Di dunia pertanian, pasti selalu ada hama yang menyerang lahan petani. Petani pun sudah sangat familiar dengan hama yang sering menyebabkan kerusakan lahan pertanian. 

Hama yang berjenis binatang tersebut mempunyai banyak jenis ukuran, mulai yang dapat terlihat sampai yang sulit terlihat. Jenis hama tersebut dibagi menjadi dua yang paling menyebabkan kerusakan, yaitu tikus dan serangga (orong-orong).

Tikus merupakan binatang yang sering membuat para petani jengkel. Pasalnya, tikus binatang yang sering menyebabkan kerusakan dilahan pertanian. 

Tikus sendiri dikenal sebagai binatang yang cerdik dan memiliki kepekaan dalam indra penciuman. Kurang lebih dari jarak 200 meter, tikus sudah dapat menciumnya. Dengan kepekaan indra penciumannya ini, tikus sudah dapat mencium mangsa maupun musuh alami seperti ular dan kucing.

Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusantara Jawa Timur Syaiful Asy'ari memberikan langkah untuk mengusir tikus dari lahan pertanian tanpa mematikannya. Caranya dengan menggunakan buah jeruk. 

"Di sini kami mengusir tikus dengan cara alami. Menaruh buah jeruk maja di atas langit-langit rumah atau air jeruk bisa ditaruh di tisu dan ditempatkan di mana tikus bersembunyi (jika lokasinya di rumah). Jika berlokasi di lahan pertanian, ambil air jeruk maja lalu kompreskan pada tanaman yang diserang tikus. Dilakukan 7 hari sekali. Para petani menggunakan jeruk maja karena buah tersebut mengandung aroma ular," bebernya.

Selanjutnya untuk menanggulangi tanaman di lahan pertanian dari serangan serangga (orong-orong/gangsir), Syaiful juga mempunyai cara-cara tersendiri dalam menghadapi hama tersebut. Pertama, biarkan sementara gulma tumbuh di sekitarnya sampai tanaman memiliki tinggi 30 cm. Kedua, tanamlah sawi atau daun singkong di sekitar tanaman untuk memberi makan serangga. "Itu cara agar serangga tidak memakan tanaman petani," ungkap Syaiful.

Untuk gulma  yang menjadi tanaman parasit di lahan pertanian, Syaiful juga memberikan cara agar dapat bermanfaat. "Untuk gulma, biarkan sampai dapat dimakan serangga (orong-orong / gangsir) karena juga dapat melindungi tanaman dari percikan air yang membawa tanah ke tanaman yang merusak daun tanaman," ucap dia.

Hama-hama tersebut pernah dirasakan  para petani, khususnya petani di wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Petani yang telah menerapkan cara-cara tersebut meliputi petani kol/kubis, tomat, timun, jagung, sawi dan petani sayuran serta buah-buahan lainnya. Cara penanggulangan itu terbukti efektif tanpa mematikan hama tersebut.

"Cara penanggulangan hama tersebut saya yang menemukan. Lalu saya bagikan ke para petani dan terbukti efektif memberantas hama tanpa membunuh tikus atau serangga tersebut," kata Syaiful.