Tampilan utama aplikasi Wadool DP3A (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Tampilan utama aplikasi Wadool DP3A (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kalangan perempuan dan anak di Kabupaten Malang semakin mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Malang. Melalui aplikasi Wadool DP3A atau yang memiliki kepanjangan Wadah Pengaduan Online, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Para korban kekerasan rumah tangga, kekerasan fisik, seksual, hingga penelantaran bisa segera mengadukannya melalui aplikasi berbasis online tersebut.

”Aplikas Wadool DP3A ini dapat diunduh secara gratis melalui HP (handphone) android yakni melalui layanan Google Play Store,” kata Kepala DP3A Kabupaten Malang, Harry Setia Budi, saat melaunching aplikasi Wadool DP3A, Rabu (12/2/2020).

Cara mendapatkan aplikasi pengaduan tersebut terbilang cukup mudah. Calon User cukup menuliskan nama aplikasi yakni Wadool DP3A di kolom pencarian pada layanan Google Play Store. Setelah itu tinggal tap ikon pada aplikasi yang berukuran sekitar 5 megabyte tersebut, dan tinggal mengikuti petunjuk untuk menginstallnya.

”Masih baru di rilis, jadi untuk sementara hanya bisa diakses melalui Play Store. Ke depan akan segera kami kembangkan, agar bisa diunduh melalui layanan iOS pada perangkat iPhone,” terang Harry.

Jika sudah terinstal, lanjut Harry, langkah selanjutnya adalah membuat sekaligus mendaftar sebagai akun. Yakni dengan cara cukup mudah, tinggal menginput data nomor HP yang dapat dihubungi, alamat, biodata diri seperti tempat dan tanggal lahir, kemudian mengisi password untuk akun baru masing-masing user.

”Data tersebut akan otomatis tersimpan, namun jika misalnya pindah rumah. Maka data yang telah masuk tetap bisa dirubah sewaktu-waktu,” terang Harry sembari mengatakan jika data yang digunakan untuk login adalah nomor HP dan password.

Apabila sudah memiliki akun, para user dapat mengakses beberapa menu dalam aplikasi Wadool DP3A tersebut. Di antaranya pengaduan, statistik, berita, riwayat, tentang dinas, dan bantuan.

”Jika ada yang perlu diadukan, tinggal pilih kolom pengaduan. Ada beberapa kategori yang bisa diadukan melalui aplikasi ini, diantaranya kekerasan fisik dan KDRT, psikis, seksual, eksploitasi, penelantaran, dan lain sebagianya ,” sambung Harry.

Setelah memilih kategori pengaduan, para user tinggal menceritakan kronologi dan dampak yang dialami akibat pengaduannya tersebut. 

”Sebelum mengirim pengaduan, user juga harus memasukkan data korban, mulai dari jenis kelamin, usia, hingga tempat tinggal korban,” saut Harry.

Namun jika tidak sempat membuat pengaduan, masih menurut Harry, para korban bisa segera menghubungi nomor yang tertera dalam layanan call center. Yakni pada nomor (0341) 346682.

”Sudah ada petugas yang kami siagakan untuk menanggapi pengaduan masyarakat, jadi akan cepat ditanggapi oleh admin yang bertugas,” ungkap Harry.

Namun demikian, admin yang ditugaskan tersebut sementara ini masih terbatas. Selain itu, durasi pelayanan pengaduan pada aplikasi Wadool DP3A juga tidak optimal selama 24 jam. 

”Admin akan stand by selama 12 jam, yakni mulai jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Secepatnya akan kami optimalkan agar bisa memberikan pelayanan hingga 24 jam,” tegas Harry.

Lantas apa bedanya dengan pengaduan ke pihak kepolisian?Harry mengaku jika pelayanan yang diberikan pada aplikasi Wadool DP3A lebih lengkap. 

”Kalau secara umum sebenarnya sama dengan lapor ke polisi. Tapi kalau ke kepolisian lebih ke pidana, sedangkan kalau melalui aplikasi ini tidak hanya ke ranah hukum saja melainkan juga bisa konsultasi,” ujar Harry.

”Nanti akan kami konfirmasi sewaktu-waktu, dan akan kami arahkan. Apakah kami arahkan ke kepolisian atau mendapatkan pembinaan dan pendampingan. Untuk itu tidak hanya kami (DP3A) saja yang bergerak, tapi instansi lain juga turut dilibatkan,” tutupnya.