Foto Dokumentasi MalangTIMES
Foto Dokumentasi MalangTIMES

MALANGTIMES - Iklim usaha pengelolaan tembakau di Kota Malang terus merosot tajam. Jumlah industri rokok yang ada di Kota Malang terus berguguran. Dari yang jumlahnya mencapai ratusan, kini hanya tinggal belasan pabrik rokok yang beroperasi.

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Kepala Dinas Koperasi Perindustruan dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Malang Wahyu Setianto menyampaikan, penurunan industri rokok memang sangat tajam. Jika pada 2005 lalu tercatat ada 150 perusahaan rokok yang beroperasi, kini hanya tinggal 18 pabrik  yang masih eksis. Angka 18 itu juga mengalami penurunan dibanding 2017 lalu yang berjumlah 35 pabrik. "Data terakhir tinggal 18 pabrik," katanya.

Wahyu mengatakan, ada banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya kemerosotan jumlah pabrik rokok tersebut. Salah satunya adalah persaingan yang semakin ketat. Bukan hanya persaingan dengan pengusaha dari dalam negeri saja, melainkan juga persaingan kelas internasional. "Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ternyata juga cukup berpengarih," tambah Wahyu.

Untuk mengantisipasi itu, Pemerintah Kota Malang terus berupaya memaksimalkan ketangguhan pengusaha lokal. Di antaranya dengan memberikan berbagai pelatihan hingga pola pemasaran yang bisa menembus pasar lebih luas lagi.

Selain konsentrasi dengan industri yang telah berkembang dan melakukan persaingan dengan pasar, Diskoperindag  juga terus mengupayakan agar usaha kecil dan menengah di Kota Malang naik kelas. Pasalnya, masih banyak usaha kecil yang dinilai memiliki potensi cukup besar. "Salah satu konsentrasi kami memang mewujudkan UKM menjadi industri," tambahnya.

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

Sementara berkaitan dengan sistem dagang online, Wahyu menyebut sejauh ini belum banyak pelaku usaha di Kota Malang yang konsentrasi dengan sistem belanja yang memanfaatkan media elektronik tersebut. Sebab, masih banyak yang merasa berjualan secara konvensional jauh lebih praktis dan menguntungkan.

"Tapi semua kan kembali lagi pada masing-masing pelaku usaha. Kalau memang mereka bisa memanfaatkan peluang itu, pasti akan untung. Dan kami tak pernah paksakan agar pelaku usaha terjun berjualan secara online," tutup Wahyu.