Para warga saat memukul peralatan dapur guna mencari keberadaan korban yang dikabarkan hanyut terbawa arus sungai sesaat setelah jatuh ke selokan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Para warga saat memukul peralatan dapur guna mencari keberadaan korban yang dikabarkan hanyut terbawa arus sungai sesaat setelah jatuh ke selokan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Aroma menyengat dari dupa yang dibakar menyambut kedatangan wartawan saat mengunjungi lokasi Moh Rafa Alfaris, yang dikabarkan hanyut terbawa arus Sungai Bodo, Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (11/2/2020) sore.

Sekitar satu jam setelah wartawan tiba di rumah nenek dari balita yang akrab disapa Rafa ini, yakni Perumahan GPA (Griya Permata Alam). 

Terdengar suara nyaring di sekitar tempat tinggal nenek balita 3,5 tahun tersebut. 

Suara yang saling bersautan itu, berasal dari peralatan dapur seperti panci, wajan, dan baskom, yang dipukul warga menggunakan sotil dan sendok.

“Rafa, nak Rafa, ndang mulio le. Ilingo dalan mulih. Kene lo metu kene (Rafa, segera pulang nak. Ingatlah jalan pulang, ayo segera keluar. Disini jalan pulang),” teriak puluhan warga sembari memukul perkakas dapur.

Dari pantauan wartawan, puluhan warga yang terdiri dari pria dan wanita, tua hingga muda tersebut. 

Nampak telaten berjalan menyisiri sekitar lokasi kejadian yang memang berdekatan dengan pemakaman dan rumah kosong tersebut.

Bahkan, sejak pukul 17.00 WIB, hampir seluruh penjuru pemakaman dan rumah kosong yang sudah dipenuhi rerumputan dan tanaman hama setinggi orang dewasa itu, tidak luput dari penyisiran warga. 

Meski azan magrib berkumandang, para keluarga korban dan warga masih tetap menyisiri tempat dimana korban diduga hanyut terbawa arus air selokan yang bermuara ke Sungai Bodo tersebut.

”Ini hanya sebagian dari ikhtiar (upaya pencarian), semua berusaha mencari korban. Beberapa upaya mulai dari lapor ke polisi, dan mendatangkan petugas SAR juga kami lakukan. Ya kan hanya usaha, apapun akan dilakukan untuk mencarai Rafa,” terang salah warga sekaligus pengurus RT, Gatot Subroto saat ditemui wartawan disela agenda pencarian.

Menurut Gatot, semenjak korban dinyatakan menghilang, warga setempat sempat berkoordinasi dengan tokoh spiritual. 

Hasilnya, disarankan untuk melakukan pencarian dengan cara adat. Yakni memukul peralatan dapur saat menjelang dan sesudah magrib.

”Sesaat setelah mendapat kabar Rafa menghilang, warga ada yang berinisiatif untuk meminta saran dari tokoh spiritual. Mulai dari tokoh spiritual di Donomulyo, Batu, dan beberapa daerah lainnya sudah didatangi. Sarannya ya ini (mencari dengan cara memukul peralatan dapur),” terang Gatot.

Menurut kepercayaan warga, metode pencarian dengan cara adat tersebut terkadang memang ada yang membuahkan hasil. 

”Kadang cara seperti ini bisa (menemukan orang hilang). Sudah banyak yang ditemukan, seperti kejadian dulu pas di Batu, Singosari juga ada yang mencari dengan cara seperti ini, dan ditemukan. Kalau disini (Perumahan GPA) baru pertama kejadian seperti ini, menurut saya tidak ada salahnya dicoba,” ungkap Gatot.

Langkah mencari korban melalui metode adat tersebut, dilakukan warga karena melihat lokasi kejadian yang dirasa tidak memungkinkan jika Rafa terbawa arus hingga jauh. 

Sebab, selain hanya berukuran kurang dari 1,5 meter, di sepanjang selokan juga dipenuhi bebatuan dan ranting pohon yang berukuran besar.

Selain itu, setiap 5 meter, selokan yang ada di lokasi kejadian juga dihubungkan dengan material drainase yang memiliki diameter sekitar 70 sentimeter. 

”Pas kejadian itu hujan deras, jadi selokan tertutup sampah dan sempat meluber ke jalan. Kemarin (Senin 10/2/2020), saat dilakukan pencarian lubang selokan banyak yang tertutup batu dan ranting pohon. Meskipun kecil kemungkinan, tapi bisa saja memang hanyut. Tapi juga tidak menutup kemungkinan kalau disembunyikan makhluk halus,” sambung Gatot.

Sebelum melakukan pencarian dengan cara adat, Gatot dan para warga sudah menghadap ke pihak keluarga korban, salah satunya Ibunda Rafa, yakni Octaviana. 

Tujuan warga menghadap tersebut, untuk meminta ijin apakah diperkenankan mencari korban melalui metode adat dan tradisi. 

Yakni memukul peralatan dapur sembari meneriakkan nama korban.

”Keluarga korban, ibu dan neneknya sudah kami tanya, mereka mengijinkan. Jadi kami lakukan pencarian dengan cara seperti ini. Baru mulai hari ini (Selasa 11/2/2020), kemarin (Senin 10/2/2020) situasi masih tidak memungkinkan untuk mencari dengan cara kebatinan,” tutup Gatot.

Seperti yang diberitakan, Senin (10/2/2020) petang, sekitar pukul 17.00 WIB, Rafa dikabarkan hilang karena hanyut ke selokan depan rumah neneknya. 

Dimana, aliran drainase tersebut terhubung ke Sungai Bodo yang bermuara hingga ke Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Mendapat laporan, petugas gabungan dari Polsek dan Koramil Karangploso, PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Malang, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), SAR, serta beberapa relawan dan dibantu warga masih berupaya melakukan penyisiran guna mencari keberadaan korban. 

Meski sudah menelusuri sejauh 7 kilometer dari lokasi kejadian, keberadaan korban hingga Selasa (11/2/2020) malam masih belum ditemukan.