Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat memberikan keterangan mengenai kasus perundungan siswa SMPN 16 Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat memberikan keterangan mengenai kasus perundungan siswa SMPN 16 Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus perundungan yang dialami MS (13), siswa SMPN 16 Kota Malang memasuki babak baru. 

Polresta Malang Kota saat ini telah menetapkan dua tersangka dalam kasus perundungan tersebut.

Hal tersebut dibenarkan langsung Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata.

Penetapan dua tersangka tersebut dilakukan setelah berproses dari perkembangan penyidikan hingga secara resmi telah dilakukannya gelar perkara.

"Kemarin (10/2/2020) secara resmi sudah ditetapkan dua tersangka anak, dengan inisial WS dan RK. WS pelajar kelas delapan SMPN 16 Kota Malang dan RK pelajar kelas tujuh SMPN Kota Malang," bebernya.

Dua pelaku tersebut, lanjutnya, merupakan dua orang yang terlibat langsung dalam aksi perundingan korban MS. 

Mereka memegang korban, kemudian mengangkat korban dan selanjutnya menjatuhkan korban ke paving serta pot.

"Saudara RK dan WS keduanya memegang korban, mengangkat lalu menjatuhkan ke paving dan mengangkat lagi kemudian menjatuhkan lagi ke pot. Kami masih mengembangkan dimungkinkan masih ada pelaku lain yang akan diproses," jelasnya.

Sementara itu, penyidikan hingga penetapan dua tersangka tersebut penyidik telah berpsoses dengan melakukan pemeriksaan terhadap 23 saksi dari berbagai pihak. 

Saksi yang diperiksa tersebut di antaranya Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, Kepala Sekolah SMPN 16, Wakil Kepala Sekolah, dua gruru BK, pihak korban maupun terlapor, tiga keluarga korban serta 10 siswa SMPN 16 Kota Malang.

"Kita juga melakukan pemeriksaan terhadap dokter yang menangani, ada empat dokter spesialis yang menangani korban dari Rumah Sakit Lavalette. Sudah kita ambil keterangan baik dari visun maupun perkembangan daripada medis korban, akhirnya secara resmi ditetapkan dua tersangka anak," bebernya.

Sementara itu, pasal yang mengancam dua tersangka, yakni Pasal 80 Tentang Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Namun pihaknya menegaskan saat ini pengembangan terus dilakukan.

"Tidak menutup kemungkinan dari rekonstruksi dan konfrontasi saksi di lokasi bisa berkembang (jumlah pelaku). Kita komitment terus melakukan penyidikan kasus ini sampai jelas seluruhnya siapa yang berbuat apa dan mempertangungjawabkan perbuatannya di muka hukum," bebernya.

Pihaknya juga menyampaikan akan segera menggelar rekonstruksi kasus perundungan tersebut. 

Namun saat ini pihaknya masih belum memastikan kapan rekonstruksi akan digelar. 

"Sesegera mungkin akan kita laksanakan, karena sudah ada tersangka," pungaksnya.