Salah satu relawan yang terlibat dalam proses pencarian saat menunjukkan lokasi kejadian tempat dimana balita diduga hanyut (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Salah satu relawan yang terlibat dalam proses pencarian saat menunjukkan lokasi kejadian tempat dimana balita diduga hanyut (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Petugas gabungan masih berjibaku mencari keberadaan balita 3,5 tahun yang diduga hanyut terbawa arus Sungai Bodo Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (11/2/2020) petang.

Beberapa petugas gabungan yang dilibatkan dalam pencarian balita yang bernama Moh Rafa Alfaris ini, terdiri dari berbagai instansi. 

Selain Polsek dan Koramil Karangploso, PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Malang, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), SAR, serta beberapa relawan seperti Gempar (Gerakan Malang Peduli Rakyat) dan dibantu warga juga turut dilibatkan dalam proses penyisiran dan pencarian keberadaan balita, yang diduga hanyut terbawa arus sungai tersebut.

”Petugas yang terlibat dalam pencarian ini tadi, melakukan penyisiran sejauh 7 kilometer dan dimulai dari lokasi awal korban diduga hanyut. Beberapa peralatan seperti pelampung, tongkat, hingga beberapa perahu karet juga dikerahkan,” kata Sekertaris Gempar, Elvin Edi Riyanto, yang nampak sibuk berkoordinasi dengan petugas pencarian lainnya melalui saluran HT (Handy Talky), ketika ditemui di lokasi pertama korban diduga hanyut.

Seperti yang sudah diberitakan, lebih dari 65 personel gabungan yang terlibat dalam proses pencarian dibagi menjadi 3 Sru (tim). 

Dimana ketiga Sru yang dikerahkan tersebut melakukan penyisiran dari lokasi kejadian yakni di Perumahan GPA (Griya Permata Alam), Kecamatan Karangploso, hingga ke aliran sungai Bodo dan ke kawasan Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Sebagai informasi, balita yang akrab disapa Rafa ini diduga hanyut ke drainase yang ada di sekitar rumah neneknya yang ada di Perumahan GPA, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada Senin (10/2/2020) petang, atau sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantauan wartawan saat berkunjung ke Perumahan GPA, tempat Rafa diduga hanyut, Selasa (11/2/2020) petang beberapa relawan dan warga nampak memadati akses jalan makadam yang menuju ke rumah nenek korban.

Ada beberapa kejanggalan saat wartawan mencoba menelusuri aliran drainase yang diduga telah menghanyutkan Rafa. 

Dimana, pada lokasi kejadian, selokan yang berukuran kurang dari 1,5 meter tersebut dipenuhi bebatuan dan beberapa ranting pohon.

”Kalau dipikir-pikir sepertinya tidak masuk akal, logikanya kalau memang hanyut harusnya nyangkut. Tapi sudah kami telusuri, bahkan selokannya sudah dibongkar tapi tidak ditemukan,” kata relawan Gempar, Elvin saat ditemui di lokasi kejadian sembari menunjuk ke arah drainase yang dipenuhi bebatuan dan ranting pepohonan.

Sekitar 10 meter dari dari lokasi Rafa diduga hanyut, lanjut Elvin, ada akar pohon yang nyangkut dan menyumbat saluran air selokan.

”Sebelum dibongkar, Ini tadi (akar pohon) menutup seluruh lubang selokan. Tapi kok tidak nyangkut, petugas sudah melakukan penyisiran dan dipastikan tidak ditemukan di situ (sekitar lokasi kejadian),” tegas Elvin.

Meski tidak masuk di nalar, namun Elvin dan petugas gabungan yang terlibat dalam proses penyisiran tetap berupaya mencari keberadaan Rafa. Hingga Selasa (11/2/2020) petang, atau lebih tepatnya menjelang magrib. 

Petugas gabungan dibantu warga masih tetap menyisiri aliran Sungai Bodo hingga ke arah Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

”Kalau anak 3,5 tahun, harusnya nyangkut. Lubang selokannya kecil, apalagi banyak bebatuan dan ranting pohon. Tapi namanya musibah, meski tidak masuk di nalar namun kemungkinan apapun bisa saja terjadi. Kami masih akan terus mencari,” tutup Elvin sembari mengarahkan tangannya yang menunjukkan tinggi Rafa sekitar 1 meter tersebut.