Petugas gabungan saat melakukan penyisiran di beberapa titik untuk mencari keberadaan balita yang dikabarkan hanyut terbawa arus sungai
Petugas gabungan saat melakukan penyisiran di beberapa titik untuk mencari keberadaan balita yang dikabarkan hanyut terbawa arus sungai

MALANGTIMES - Sebelum dikabarkan hilang karena terseret arus Sungai Bodo yang berlokasi di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Senin (10/2/2020) petang, Moh Rafa Alfaris bisa dikatakan kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, sejak masih bayi, balita 3,5 tahun tersebut terpaksa tinggal bersama neneknya di sebuah rumah yang berlokasi di Desa Ngijo. Bukan karena ayah dan ibunya sibuk bekerja, tapi kedua orang tuanya telah bercerai.

Lahir dari keluarga yang broken home itulah yang membuat Rafa ini tinggal bersama neneknya. Berangkat dari temuan inilah, wartawan kemudian mencoba mencari kebenarannya ke beberapa sumber resmi. Ketika ditanya perihal temuan di lapangan, Kapolsek Karangploso, AKP Effendi Budi Wibowo membenarkan temuan wartawan tersebut.

 ”Iya, informasinya memang seperti itu (broken home), dia (Rafa) selama ini tinggal bersama mbah-nya (kakek dan nenek). Korban anak tunggal, kasian sebenarnya,” tutur perwira polisi dengan pangkat tiga balok di bahu ini.

Seperti yang sudah diberitakan, Senin (10/2/2020) petang, tepatnya sekitar pukul 17.00 WIB, Moh Rafa Alfaris dikabarkan hilang terseret arus Sungai Bodo yang ada di sekitar rumah neneknya di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Dugaan balita 3,5 tahun yang hanyut terbawa arus sungai Bondo tersebut, dikuatkan dengan penemuan payung yang digunakan korban sesaat sebelum dinyatakan hilang. Dimana, payung yang dibawa Rafa ditemukan di aliran drainase yang ada di sekitar rumah sang nenek.

”Diduga kuat korban memang hanyut terbawa arus sungai, hingga saat ini (Selasa 11/2/2020 sore), petugas gabungan masih melakukan pencarian,” jelas Kapolsek Karangploso.

Berdasarkan laporan kepolisian, lanjut Effendi, sesaat sebelum dinyatakan hilang di wilayah Kecamatan Karangploso memang diguyur hujan deras. Mengetahui kondisi cuaca yang sedang hujan, nenek Rafa sempat berinisiatif untuk menutup pagar agar balita tersebut tidak keluar rumah.

”Namanya anak kecil, meski saat itu pagar sudah ditutup namun ada celah kecil yang membuat korban tetap bisa keluar dari rumah,” terang Effendi kepada wartawan.

Saat itu, Rafa pergi keluar rumah dengan membawa payung. Mengetahui cucunya pergi melewati pagar, sang nenek sempat berteriak agar balita tersebut tidak pergi kemana-mana. ”Sudah dicegah, tapi pas dilarang neneknya, korban mengatakan jika dirinya mau pergi ke rumah pak dhe-nya (paman). Tempat tinggalnya berjarak beberapa rumah dari kediaman neneknya,” ungkap Effendi.

Di saat bersamaan, nenek Rafa saat itu sedang menyalakan kompor di dapur. Hal itulah yang membuatnya bergegas lari ke dapur untuk mematikan kompor terlebih dahulu, sebelum akhirnya bergegas mengejar cucunya.

Nahas, ketika dikejar dan dicari ke rumah pak dhenya, Rafa ternyata tidak ada. Merasa khawatir, pihak keluarga korban mencari keberadaan Rafa di sekitar rumah mereka. Ketika melintas di sekitar aliran drainase yang mengalir ke sungai Bodo, kedua saksi menemukan payung yang dibawa korban di sekitar lokasi drainase.

”Masih dalam proses penyisiran, petugas yang dikerahkan ada dari Polsek dan Koramil Karangploso, PMI Kabupaten Malang, BPBD, SAR, beberapa relawan dan dibantu warga. Hasilnya sementara masih nihil, di lokasi pencarian memang sempat banjir sehingga menyulitkan tim yang melakukan pencarian,” tutup Effendi.