Syaiful Asy'ari, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusantara Jawa Timur, saat melakukan perawatan pada tanaman kangkung yang ditanam dengan cara hidroponik. (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)
Syaiful Asy'ari, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusantara Jawa Timur, saat melakukan perawatan pada tanaman kangkung yang ditanam dengan cara hidroponik. (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)

MALANGTIMES - Hujan yang sering terjadi di wilayah Malang Raya, khususnya Kabupaten Malang, membuat para petani menyiapkan strategi-strategi khusus untuk meminimalisasi gagal panen atau tumbuhan rusak.

Saiful Asy'ari, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusantara Jawa Timur, mengatakan bahwa ada beberapa persiapan bagi petani dalam menghadapi curah hujan tinggi. Pertama, mengurangi penggunaan pupuk urea/pupuk N (nitrogen), khususnya untuk tanaman holtikultura karena air hujan sudah mengandung urea.

Baca Juga : Akhir Kisah Sahabat Rasulullah yang Mengatakan Zakat Adalah Pungli

 Kedua, penggunaan pupuk yang berimbang saat pertumbuhan dan menggunakan pupuk yang mengandung P (fosfor) dan K (kalium) saat pertumbuhan tanaman. "Yang Ketiga pencampuran pupuk dengan dulumit (kapur pertanian) untuk mengurangi keasaman," ungkapnya.

Pengurangan penggunaan pupuk urea pada tanaman holtikultura seperti kol, buncis, terong, tomat, timun karena tanaman-tanaman tersebut tanaman yang cepat panen dan cepat juga membusuknya.

Saiful menambahkan, untuk ketahanan pangan, harus lebih diperbanyak penambahan fungisida. "Penambahan fungisida untuk ketahanan pangan yang diberikan 1 minggu 2 kali," ucap pria yang juga ketua bidang riset dan teknologi KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Malang tersebut.