Screenshot video channel YouTube BBC News Indonesia
Screenshot video channel YouTube BBC News Indonesia

MALANGTIMES - Bangun pagi, berangkat sekolah, belajar, dan bercanda dengan teman sebaya tentu menjadi mimpi sederhana banyak anak-anak Indonesia. Tapi mimpi itu menjadi hal yang sangat istimewa, bahkan harus dikorbankan oleh gadis belia bernama Nada Fedulla ini.

Impiannya itu sirna dan direnggut begitu saja oleh ayah tercintanya. Nada terpaksa berhenti sebagai siswa sekolah dasar pada 2015 silam. Dia pun dibawa oleh ayahnya menuju sebuah negara yang sebelumnya tak pernah terbesit dalam pikirannya sama sekali. Ya, sejak 2015 lalu, sang ayah membawa ia bersama nenek dan keluarganya ke Suriah.

Tentu jauh dari bayangannya. Karena bukan teman bermain baru yang ia temui di Suriah, melainkan ia harus menyaksikan mayat bergeletakan di jalanan. Kepala dan tubuh terpisah dengan begitu saja. Pemandangan yang sungguh mengerikan itu pun tak pelak menjadikan hatinya teriris.

"Ketika saya pergi berbelanja dengan keluarga saya, kadang-kadang saya melihat mereka membantai orang-orang. Mereka melakukannya di jalanan agar orang-orang bisa melihat," kata bocah yang kini sudah menginjak usia remaja itu dalam wawancara bersama BBC News Indonesia.

Nada pun bercerita, jika dia sama sekali tak tahu menahu jika tempat baru yang menjadi tujuan ayahnya saat itu adalah Suriah. Namun nasi sudah menjadi bubur, impiannya untuk menjadi seorang dokter pun kini sirna karena ulah sang ayah yang memilih bergabung menjadi bagian teroris ISIS.

"Saat saya masih sekolah, saya bercita-cita menjadi dokter," kenangnya dengan senyum simpul. Sedikit kebahagian terlihat jelas saat ia menceritakan kenangan masa kecilnya dengan mimpinya yang begitu mulia.

Namun tetesan air mata berlinang di pipi Nada, saat ia menceritakan bagaimana kisahnya harus merelakan mimpinya menjadi seorang dokter. Dengan suara bergetar, Nada berpendapat jika setiap manusia pernah memiliki kesalahan. Maka dengan lapang dada, dia memaafkan perbuatan ayahnya yang telah salah memilih jalan sebagai bagian dari ISIS.

Dia pun menyampaikan rasa lelahnya bergelut dengan negeri asing. Remaja berhijab itu menyampaikan keinginannya untuk kembali ke tanah air. "Saya akan sangat berterimakasih jika ada orang yang memaafkan kami," kata Nada.

Sang ayah, Aref Fadullah saat diwawancara BBC News Indonesia pun mengakui jika upayanya bergabung dengan ISIS adalah sebuah kesalahan besar. Dia mengaku sangat bersalah karena telah membawa keluarganya dan mengorbankan semuanya untuk ISIS. Namun nasi sudah menjadi bubur, terorisme menjadi musuh dunia yang tentunya sangat susah untuk dimaafkan.