Kriminolog Sebut Kasus Bullying Siswa SMP Rentan Diversi

Feb 07, 2020 16:40
Ilustrasi perundungan anak. (egindodotco)
Ilustrasi perundungan anak. (egindodotco)

MALANGTIMES - Dugaan kasus perundungan (bullying) terhadap siswa SMPN 16 Kota Malang MS (13) hingga menyebabkan satu jarinya diamputasi, rentan berakhir dengan diversi. Yakni pengalihan penyelesaian perkara anak dari peradilan pidana ke luar peradilan pidana atau dengan kata lain mediasi.

Diversi sendiri merujuk pada Pasal 1 Angka 7 UU 11/2012. Lalu, pasal 5 ayat 3 menegaskan, “Dalam sistem peradilan pidana anak wajib diupayakan diversi”.

Baca Juga : Kejari Malang Terima Gugatan Online Kasus WP Hotel Penunggak Pajak

Namun untuk langkah tersebut, semuanya tetap tergantung dengan pihak korban, apakah mau untuk mediasi atau tidak.

"Semua pasal tetap dikatakan dengan UU Perlindungan Anak dan sistem pidana peradilan anak. Kalau ancaman pidana hanya 5 tahun, kemungkinan dimediasi karena untuk melindungi pelaku masih anak-anak. Namanya diversi, penyelesaian perkara di luar pengadilan,"  ungkap kriminolog Universitas Brawijaya (UB) Dr Prija Djatmika SH MSi.

Prija  berpendapat,  kasus yang dialami MS termasuk berat. Pasalnya, seperti diketahui, MS mengalami sejumlah luka dan membuat satu jari tangannya harus diamputasi. Dampaknya dia juga mengalami trauma.

Dalam hal ini, Prija mengatakan  bisa saja Pasal 351 Ayat 2 Juncto Pasal 170 KUHP dipakai. Sebab, perbuatan pelaku sampai menyebabkan korban mengalami cacat fisik. Namun, hal itu tetap harus dikaitkan dengan sistem peradilan anak.

Prija juga menyampaikan,  keluarga korban diharapkan .eminta bantuan dari Lembaga Perlidungan Saksi dan Korban (LPSK). Hal ini bertujuan agar pihak korban bebas dari intervensi berbagai pihak.

Baca Juga : Awasi Napi Asimilasi, Polres Malang Bahas Bareng Kejari

Prija pun mendorong agar kasus ini terus diproses secara hukum. Hal tersebut tentunya sebagai efek jera agar nantinya kejadian seperti  itu tak terulang lagi.

"Kalau sampai diamputasi, itu ancaman pidananya berat. Kalau berdamai, tergantung para pihak mau mediasi apa tidak. Tapi dalam sistem peradilan anak, kalau ancaman pidana 7 tahun atau lebih, kalau pelakunya residivis, itu tidak bisa dimediasi. Ini bukan residivis. Masih bisa dimediasi. Tapi kan tangannya diamputasi sekarang. Itu kan masuk penganiayaan berat," ungkapnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
MalangBerita MalangKasus Bullying Siswa SMPSMPN 16 Kota Malangkriminolog Universitas Brawijaya UB Dr Prija Djatmika SH MSiLembaga Perlidungan Saksi dan Korban LPSK

Berita Lainnya

Berita

Terbaru