Petisi untuk korban dugaan kasus bullying siswa SMP di Kota Malang (Foto: Istimewa)
Petisi untuk korban dugaan kasus bullying siswa SMP di Kota Malang (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Dugaan kasus perundungan atau bullying terhadap seorang siswa berinisial MS di SMPN 16 Kota Malang memunculkan beragam reaksi dari warganet. Simpati untuk korban ramai bergerilya di lini masa twitter.

Warganet mengecam keras tindakan kekerasan terhadap siswa SMP yang menyebabkan jari tengah tangan kanannya harus diamputasi, warganet pun ramai membuat petisi online di laman Change.org.

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid 19, Pelaku Curnamor Makin Liar, Sehari Dua Motor Digasak

Petisi online tersebut ditujukan untuk Wali Kota Malang Sutiaji, Diknas (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kota Malang, Kapolresta Malang Kota, dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Isi petisi tersebut meminta keadilan bagi MS korban pembully-an di SMPN 16 Kota Malang.

"Ayo!!! Sebagai warga Malang yang baik, mari kita kawal kasus ini sampai tuntas. Pertama Kita pasrahkan kasus ini kepada Bapak Walikota Malang selaku orang no.1 di lingkungan Kota Malang. Kedua kepada Bapak Kapolres Malang selaku pengayom masyarakat Malang," tulis pembuat petisi, Vyan Muhammad dikutip dari Change.org.

Sang pembuat petisi, mengajak lini masa untuk menuntut keadilan bagi korban bullying. Sehingga ke depan, tidak ada kasus-kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Malang.

"Apabila tidak ada keadilan atas apa yang menimpa korban, bukan tidak mungkin akan muncul kasus-kasus serupa bahkan lebih parah.
Ayo Ker!!! Tanda Tangani Petisi ini sebagai partisipasi kalian untuk mengawal kasus ini.
Malang Sak Jiwo!!!," tambahnya.

Petisi untuk MS ditargetkan mendapat 5000 ribu tanda tangan. Hingga berita ini diturunkan, jumlah warganet yang telah menandatangani petisi ini sudah mencapai 4684 ribu tanda tangan.

Banyak pula warganet yang ikut mendukung gerakan ini dengan memposting di akun sosial media twitternya, seperti, akun @leodmahardika.

"Bullying is not a joke, kalian yg alih2 ingin mengetes mental seseorang dengan cara bully, memang kalian ini siapa?," cuitnya.

Baca Juga : Pelaku Pencabulan di Jatimulyo Disebut Punya Kelainan Seks terhadap Anak

Ia juga menambahkan, penyebutan tes mental terhadap kasus bullying seakan menjadi saksi bahwa persoalan ini saat ini perlu mendapat perhatian. Karena, aksi-aksi bullying sudah dalam kadar melebihi batas.

"Oiya mau berbagi juga, kenapa aku nyebutnya di atas tes mental, karna di lingkunganku juga terdapat bullying tapi masih dalam kadar tidak melebihi batas. Mereka menyebutnya hanya untuk tes mental, padahal mah sebenernya mereka juga ga tau mental setiap orang kaya gimana," tandasnya.

Diketahui, dugaan kasus ini sudah masuk ranah penyelidikan pihak berwajib. Dari pemeriksaan awal terhadap tujuh saksi, terungkap jika korban sempat digotong bersama-sama dan sempat dibanting di paving maupun pada pohon.