Hampir 1 tahun ditemukan, situs Sekaran akhirnya akan dibangun atap dan dinding penahan oleh PT Jasa Marga dengan nilai Rp 1,5 miliar. (dok MalangTimes)
Hampir 1 tahun ditemukan, situs Sekaran akhirnya akan dibangun atap dan dinding penahan oleh PT Jasa Marga dengan nilai Rp 1,5 miliar. (dok MalangTimes)

MALANGTIMES - Ditemukan sekitar Maret 2019 lalu, situs Sekaran di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, nasibnya sungguh memprihatinkan. 
Situs yang diperkirakan dibangun pada abad X-XIII Masehi pada awal penemuannya membuat gempar masyarakat dan terjunnya tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim).  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang pun ikut serta dalam proses itu. 

Tapi, sejak itu, situs Sekaran akhirnya ditinggalkan dikarenakan berbagai faktor. Salah satunya adalah lahan penemuan situs yang bukan kewenangan Pemkab Malang.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Maka, situs yang masih menunggu untuk dieksplorasi keberadaannya untuk ilmu pengetahuan ini terbengkalai. Hingga PT Jasa Marga setelah melakukan pembahasan tindak lanjut situs dengan BPCB Jatim memutuskan untuk melakukan pembangunan atap dan dinding penopang di situs Sekaran agar dapat melindungi dari faktor cuaca dan tangan-tangan jahil.

PT Jasa Marga mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk membangun dinding dan atap situs. Seperti yang disampaikan oleh M Jajuli, general manager teknik PT Jasa Marga Pandaan-Malang, saat meninjau lokasi situs yang letaknya di kilometer 37 ruas tol Malang-Pandaan atau di seksi V tersebut.

"Ini lagi pemilihan vendor. Anggaran hampir Rp 1,5 miliar yang nanti kami laporkan ke BPJT," ucapnya yang juga menyebut Rp 1 miliar untuk pembangunan atap dan sisanya untuk dinding penahan.

Jajuli menerangkan untuk bangunan atap nantinya direncanakan 30 meter kali 15 meter persegi. Sedangkan untuk pelaksanaannya di pertengahan Februari dan ditarget selesai akhir Maret 2020 datang.

Berlarutnya perlindungan situs Sekaran, sehingga kondisinya cukup memprihatinkan saat ini, dikarenakan lahan situs berada di wilayah atau kewenangan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Sehingga untuk pengelolaan ke depannya, agar situs tak lagi tenggelam karena rusak oleh cuaca, diperlukan hibah lahan dari pemerintah pusat ke Pemkab Malang.

"Kami telah sampaikan ke Pemkab Malang untuk bersurat ke Bina Marga. Sehingga pengelolaan bisa jelas dengan adanya hibah. Karena prosesnya bisa lama untuk itu," ujar Jajuli.

Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara membenarkan kendala itu. Tapi, menurut dia, Pemkab Malang yang juga memiliki kepentingan terkait penemuan situs sekaran telah melakukan korespondensi ke Kementerian PUPR terkait hibah lokasi.

"Sudah kami lakukan itu. Harapannya memang proses hibah bisa segera selesai dan Pemkab Malang bisa menangani situs itu," ujarnya yang menegaskan, pihaknya tak bisa melakukan hal lain yang lebih jauh tanpa adanya proses hibah terkait tanah.

Dari informasi lainnya, rencana luasan lahan yang akan dihibahkan kepada Pemkab Malang, diperkirakan kurang lebih seluas 850 meter persegi. Nantinya, pengelolaan situs Sekaran tersebut akan diserahkan ke Pemerintah Desa (Pemdes) Sekarpuro.