Pesawat Tanpa Awak Ini Dibuat Khusus Pantau Hama Kedelai

Feb 04, 2020 19:20
Tim Agrioutro. (Foto: istimewa)
Tim Agrioutro. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Produksi Komoditas Kedelai Indonesia cenderung rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen nasional. Maka tak heran jika Indonesia masih harus melakukan impor kedelai yang cukup besar setiap tahunnya.

Impor kedelai dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Badan Pusat Statistik menunjukkan, untuk periode Januari-Juni 2018, impor kedelai telah mencapai 1,17 juta ton atau 43,7% dari total impor tahun sebelumnya.

Baca Juga : Drone Taksi Pertama Buatan Start Up Anak Bangsa, Siap Jadi Transportasi Indonesia di Masa Depan

Pada tahun 2019 lalu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menyatakan, Kementan menargetkan pada 2020 Indonesia tidak akan impor kedelai lagi guna mencapai target swasembada kedelai pada 2020.

Maka untuk mendukung peningkatan produksi kedelai di Indonesia, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) mengembangkan inovasi teknologi untuk memantau hama pada kedelai bernama Agrioutro.

Tiga mahasiswa tersebut di antaranya Fibrianti Shinta Dewi (Agroekoteknologi 2018), Dhea Nasekha Oktaviola (Sosial Ekonomi 2017), dan Aditya Aji Novtara (BP 2018). "Kami menggabungkan konsep pesawat udara tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Virtual Reality (VR) yang saat ini sedang trend di perangkat android," ujar Fibrianti Shinta Dewi selaku ketua tim.

Pesawat tanpa awak ini digunakan sebagai usaha pemantauan hama pada komoditas kedelai secara real time, efisien, serta tidak merusak tanaman saat proses pemantauan. "Agrioutro dikonsep untuk memantau hama pada kedelai sehingga dapat diketahui intensitas serangan terhadap kedelai pada suatu lahan," terangnya.

Dengan adanya pengembangan pesawat tanpa awak ini, katanya, maka petani dapat melakukan pemantauan serangan hama lebih cepat dan tepat sebagai upaya pengambilan keputusan dalam pengendalian hama pada kedelai. "Serta dapat membantu meningkatkan produktivitas kedelai di Indonesia," imbuhnya.

Baca Juga : Lontara-AR, Aplikasi Pembantu Belajar Aksara Lontara Berbasis Teknologi Augmented Reality

Tim dari FP di bawah bimbingan Mochammad Roviq SP ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan rendahnya produktivitas kedelai nasional serta mendukung adanya revolusi industri 4.0 di bidang pertanian.

Atas inovasi ini, mereka berhasil memperoleh Juara 1 dan Poster Favorit dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional setelah melalui tahap seleksi abstrak, fullpaper, dan grand final 10 besar dengan Finalis berasal dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Hasanuddin.

Topik
MalangBerita MalangPesawat Tanpa Awaktiga mahasiswaFakultas Pertanian Universitas BrawijayaKota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru