Rektor UB, Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Rektor UB, Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mengatasi kemacetan di kawasan Sukarno Hatta (Suhat), Pemerintah Kota (Pemkot) Malang telah melakukan rekayasa lalu lintas (lalin) dengan menerapkan jalan satu arah. 

Namun, selain menerapkan rekayasa lalin, Wali Kota Malang Sutiaji mengusulkan alternatif lain, yakni dengan meminta beberapa kampus (seperti UB, Polinema, UNISMA, UM, ITN, UMM) memundurkan jadwal kuliah mahasiswa.

Pada tahun ajaran baru nanti, para universitas tersebut akan diminta untuk mencoba membuat skenario jadwal perkuliahan. 

Seperti, yang semula jadwal perkuliahan mahasiswa dimulai pagi hari pukul 07.00 WIB maka bisa dimundurkan lebih siang di pukul 09.00 WIB.

"Nanti mungkin skenario jadwal masuknya itu agak siang, jam 9 misalnya. Tentu itu ritmenya akan membawa perubahan jadwal pulang. Jadi kalau masuk jam 8 pagi pulang jam 4 semua bareng-bareng," katanya seperti yang diberitakan sebelumnya di MalangTIMES.

Menanggapi usulan tersebut, Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menyatakan pihaknya tidak bersedia.

"Kalau ini disuruh jam 9 saya nggak bersedia karena itu melanggar peraturan pemerintah segala macamnya. Ya marah semua orang," katanya Selasa (4/2/2020).

Nuhfil menjelaskan, dirinya hanya menjalankan peraturan pemerintah, yakni jam kerja mulai pukul 07.00 sampai sore pukul 16.00.

"Kita taati itulah, saling menghargai kita, supaya negara ini menjadi nyaman," katanya.

Maka dari itu, dia menyarankan Pemkot melakukan survei soal kemacetan lalu lintas ini dengan basis ilmiah. 

Sementara kemacetan yang terjadi kemarin menurutnya karena masyarakat yang kaget akan adanya rekayasa lalin. Bukan karena jam kuliah pukul 07.00.

"Saran saya disurvei dengan bagus berapa sih volume lalu lintas yang dari barat, dari timur berapa, dari utara berapa, apa yang membuat macet. Disurvei dengan bagus segala macamnya supaya menjadi komprehensif," paparnya.

"Usul saya supaya dikaji secara komprehensif. Intinya seperti itu yang pertama," imbuhnya.

Kedua, lanjut Nuhfil, tidak melanggar peraturan pemerintah dengan tidak memundurkan jadwal perkuliahan. 

Kemacetan yang sebelumnya terjadi menurut Nuhfil juga hanya sebentar dan berlaku di jam-jam tertentu saja.

"Jadi macetnya itu menurut saya sebentar. Dan itu sudah dalil orang berangkat kuliah, berangkat kerja, sama pulangnya. Menurut saya nggak berlama-lama," ungkapnya.

Namun demikan, Nuhfil menganggap bahwa permintaan Sutiaji hanyalah ucapan spontan saja.

"Nggak perlu dibuat heboh-hebohan. Pak wali mungkin spontan melihat jam 9 kok lancar. Ya tentu saja lancar semua orang masuk ke kantor," katanya.

Baginya, wajar jika Kota Malang sebagai kota besar macet. Namun, memang harus diantisipasi. Diantaranya melalui rekayasa jalan, memperlebar jalan, dan lain-lain.

"Wajarlah ada kota besar itu macet, wajar. Dan memang harus diantisipasi. Mestinya perlu memperlebar jalan. Kalau di luar negeri di Eropa sana itu pembuatan jalan mengikuti jumlah pertumbuhan penduduk," pungkasnya.