Bangunan dengan bahan material bambu laminasi (Litbang PUPR)
Bangunan dengan bahan material bambu laminasi (Litbang PUPR)

MALANGTIMES - Bumi Indonesia kaya dengan ragam flora. Misalnya, tanaman bambu yang tumbuh subur di berbagai wilayah serta menempatkan Indonesia sebagai pemilik terluas keenam di dunia.

Potensi besar itu sayangnya masih belum tereksplorasi secara maksimal. Dimana, berlimpahnya bambu Indonesia dengan berbagai ragamnya hanya dimanfaatkan pada produk-produk dengan nilai tambah yang juga belum begitu maksimal. Atau pemanfaatannya untuk material, misalnya, bangunan masih terbatas dikarenakan terkendala bentuk dan ketahanan dari bambu bila dipergunakan sebagai bahan bangunan.

Kondisi ini yang membuat Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR) RI tertantang untuk melakukan penelitian yang membuat bambu bisa lebih bernilai ekonomis tinggi dan praktis dipergunakan sebagai bahan material bangunan.

Maka lahirlah bambu laminasi yang diklaim memiliki kekuatan sekelas kayu serta dapat diaplikasikan pada hampir seluruh komponen bangunan tradisional.

”Bambu laminasi telah melalui pemrosesan sehingga bentuk dan ketahanannya dapat menyerupai kayu. Bambu laminasi dapat diaplikasikan pada hampir seluruh komponen bangunan tradisional, kecuali penutup atap,” tulis Balitbang PUPR dalam keterangan resmi mereka yang diunggah di akun Instagram Kementerian PUPR.

Lahirnya bambu laminasi menjadi bagian dalam inovasi pemerintah mendayagunakan sumber alam Indonesia yang melimpah. Tak hanya untuk bahan material konstruksi bangunan saja, bambu laminasi juga menurut Balitbang PUPR bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan, daun pintu dinding tempel, parket lantai, meubel, dan gazebo.

Bambu laminasi dibuat dengan cara membelah bambu menjadi lembaran-lembaran tipis. Sehingga bentuknya tak lagi bundar dan berongga seperti yang biasa kita ketahui. Setelah bambu menjadi lembaran tipis kemudian diawetkan melalui teknologi atau dengan boron. Bentuknya pun menjadi seperti kayu atau triplek, tapi dengan daya tekan yang lebih bagus dan tidak mudah patah atau pecah.

Inovasi bambu laminasi yang masih terbilang terbatas ini lah yang kemudian dikembangkan lebih canggih lagi oleh Balitbang PUPR. Bahkan telah diaplikasikan sebagai struktur rumah tradisional di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Serta Kantor Dinas PU di Desa Sambori Bima (NTB), Desa Tradisional Sade Lombok Barat (NTB), dan Kampung Bena serta Wogo Kabupaten Ngada, NTT.

Pengembangan bambu ini membuat asa baru dalam mengatasi kelangkaan pemenuhan kayu sebagai bahan bangunan. Terlebih, bambu merupakan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan karena sekali ditanam dapat dipanen berkali-kali tanpa harus menghilangkan seluruh tegakan rumpunnya.