Ckckck.. Perangkat Desa di Kabupaten Malang Turut Edarkan Uang Palsu

Feb 03, 2020 16:10
Barang bukti uang palsu yang disita polisi dari tangan para tersangka (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Barang bukti uang palsu yang disita polisi dari tangan para tersangka (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kabupaten Malang marak dijadikan sasaran peredaran upal (uang palsu). Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, pembuat sekaligus pengedar upal menjadi salah satu kasus menonjol yang ditangani aparat kepolisian.

Terbaru, ungkap kasus rupiah palsu terjadi pada pertengahan bulan Januari 2020 lalu. Tepatnya pada Minggu (19/1/2020), anggota Reskrim Polsek Turen berhasil meringkus pelaku yang membuat sekaligus mengedarkan uang palsu.

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Tersangkanya bernama Sutinggal warga Dusun Sumberpucung, Desa Girimulyo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. ”Tersangka ini berprofesi sebagai perangkat desa di tempat tinggalnya, yang bersangkutan kami amankan saat mengedarkan uang palsu di pasar tradisional,” kata Kanit Reskrim Polsek Turen, Iptu Soleh Mas’udi.

Dari tangan pria 61 tahun tersebut, petugas kepolisian menyita beragam barang bukti. Diantaranya uang palsu dengan pecahan nominal Rp 20 ribu sebanyak 28 lembar, Rp 50 ribu sebanyak 115 lembar, dan uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak 16 lembar. ”Selain mengedarkan tersangka juga terlibat dalam pembuatan uang palsu, kasusnya saat ini masih dalam pengembangan,” tegas Soleh.

Terungkapnya kasus uang palsu ini, bermula dari laporan salah satu pedagang Pasar Waringin Gedogwetan, Desa Gedogwetan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Kepada petugas, korban yang bernama Patemah mengaku jika ada salah satu pembeli yang membayar belanjaannya dengan menggunakan uang palsu.

”Modusnya, tersangka membeli cabai rawit  seperempat kilogram dengan menggunakan uang pecahan Rp 50 ribuan. Setelah diperiksa oleh korban, uang dengan nomor seri EAR395999 ternyata palsu,” jelas Soleh.

Sesaat setelah mendapat laporan, jajaran kepolisian Mapolsek Turen langsung dikerahkan untuk mengamankan tersangka. Selain itu, beberapa barang bukti berupa uang palsu juga sudah disita polisi sebagai barang bukti penyidikan.

”Akibat perbuatannya, tersangka kami jerat dengan pasal 26 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 Juncto Pasal 245 KUHP, tentang pembuatan dan mengedarkan uang palsu,” tegas Soleh.

Jauh sebelum ungkap kasus upal di awal tahun 2020 ini terjadi. Pada bulan November 2019 lalu, Jajaran Satreskrim Polres Malang juga berhasil meringkus seorang residivis kasus upal di wilayah hukum Polres Malang. Tersangkanya bernama Sarmin alias Minto warga asli Rembang, Jawa Tengah.

”Tersangka Minto ini, pada 2012 lalu pernah menjalani masa hukuman kurungan penjara selama 3,5 tahun karena mengedarkan uang palsu,” terang Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo.

Sekitar 4 tahun setelah bebas usai menjalani hukuman, pria 64 tahun itu kembali dijebloskan kedalam sel tahanan karena kasus peredaran uang palsu. Dari tangan tersangka, petugas menyita barang bukti berupa uang palsu pecahan Rp 100 ribu sebanyak 174 lembar, dan uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 68 lembar.

”Berdasarkan pengakuannya, uang palsu yang bernilai sekitar Rp 21 juta itu dibeli tersangka dengan harga Rp 5 juta,” terang anggota polisi yang akrab disapa Andaru ini.

Dari kesaksiannya, tersangka Minto mengaku jika membeli upal dari jaringan yang ada di wilayah Jatiasih, Bekasi. Sedangkan gembong pembuatan rupiah palsu itu, diketahui berinisial E yang sementara ini masih berstatus buronan polisi.

”Tersangka Minto ini berperan sebagai pemasok uang palsu kepada beberapa pengedar yang ada di Kabupaten Malang,” ungkap Andaru yang juga pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Gresik ini.

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid 19, Pelaku Curnamor Makin Liar, Sehari Dua Motor Digasak

Terpisah, Kasubag Humas Polres Malang, Ipda Nining Kusumawati, menjelaskan jika peredaran uang palsu tersebut juga marak dijadikan untuk sarana penipuan. Terutama dengan modus penggandaan uang.

Kejadian semacam ini terjadi pada akhir tahun 2018 lalu. Adalah Amar warga asli Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, yang diciduk polisi karena mengaku keturunan wali dan mampu menggandakan uang.

Ditempat praktiknya yang berlokasi di Dusun Legok, Kecamatan Kepanjen, pria 54 tahun itu mengajak para pengikutnya menggelar ritual untuk penarikan harta karun dari alam gaib. ”Korban diminta untuk membayar mahar sejumlah ratusan juta. Setelah menjalani ritual, uang mahar tersebut akan berlipat ganda menjadi milyaran rupiah,” terang Nining.

Setelah 10 bulan beroprasi, tersangka Amar akhirnya diringkus polisi lantaran adanya banyak laporan yang dilayangkan ke Polsek Kepanjen. ”Para korban mengaku jika telah ditipu, uang hasil ritual yang diberikan kepada korbannya ternyata palsu,” terang Nining.

Motif peredaran uang palsu dengan modus tipu-tipu ini bukan pertama kali terjadi. Pada bulan November 2018 lalu, tiga orang tersangka peredaan uang palsu bermotif penipuan kembali diringkus anggota kepolisian.

Ketiga orang tersangka tersebut bernama Riyanto warga Desa Kranggan Kecamatan Ngajum, Latipah warga Jalan Sunan Drajat Desa Sumberjaya Kecamatan Gondanglegi, dan Rusdianto warga Jalan Kalimosodo Kelurahan Polehan Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.

Kepada para korbannya, ketiga tersangka mengaku sebagai paranormal yang bisa menggandakan uang. Jika sudah tergiur, komplotan ini kemudian meminta uang ratusan juta sebagai mahar untuk melangsungkan ritual penggandaan uang.

Jika proses pembayaran mahar telah diberikan kepada tersangka. Para korban akan diberi koper yang diklaim tersangka berisi uang milyaran. Setelah dibuka, ternyata didalam koper tersebut hanya berisi tumpukan uang palsu. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian, dan ketiganya berhasil diringkus petugas pada bulan November 2018 lalu.

”Kami menghinbau kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap peredaran uang palsu. Biasanya, upal yang diedarkan para pelaku memiliki kondisi fisik yang sedikit berbeda dari uang asli. Amati, jika warnanya nampak pudar, tidak terdapat benang pengaman, serta nomor serinya terdiri dari huruf dan angka yang sama berarti itu uang palsu,” imbau Nining.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Berita MalangPerangkat Desa di Kabupaten Malang Turut Edarkan Uang Palsuperedaran uang palsukecamatan kepanjenPolsek TurenUang Palsu

Berita Lainnya

Berita

Terbaru