Wali Kota Malang Sutiaji (tengah kenakan seragam hitam) saat mengunjungi warga terdampak krisis air (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (tengah kenakan seragam hitam) saat mengunjungi warga terdampak krisis air (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Wali Kota Malang Sutiaji sambangi warga terdampak krisis air di Kelurahan Tlogowaru, Senin (3/2/2020). Dalam kunjungannya itu, Sutiaji berjanji akan mempercepat proses pemasangan pipa transmisi baru yang selama ini menjadi penyebab utama terjadinya krisis air.

Pria berkacamata itu menyampaikan, Kementerian PUPR akan memulai pengerjaan instalasi saluran pipa baru pada titik yang sebelumnya mengalami kerusakan pada Rabu (5/2/2020) mendatang. Proses pengerjaan kemungkinan memakan waktu selama 60 hari.

"Tapi kami berharap agar bisa dipercepat, kalau bisa selesai 50 hari," katanya.

Sutiaji menjelaskan, beberapa skema akan diterapkan untuk mengantisipasi kebutuhan air selama proses pengerjaan instalasi pipa baru. Diantaranya adalah dengan mensuplai air dari sumber lain untuk beberapa wilayah terdampak. Sehingga, diharapkan masyarakat tak lagi mengeluh dengan kondisi yang ada saat ini.

Menurutnya, beberapa sumber yang akan digunakan untuk mengaliri daerah terdampak seperti sumber di Tlogomas hingga sumber dari Wendit. Dengan skema khusus, air akan dialirkan melalui jaringan lain hingga ke rumah-rumah warga.

"Jadi supaya nggak ngangsu air lagi, air akan diambilkan dari beberapa sumber," tambah Sutiaji.

Politisi Demokrat itu menyampaikan, pemanfaatan sumber lain itu tentunya membutuhkan metode yang berbeda. Terlebih, 26 ribu saluran rumah terdampak berada pada titik atas. Sementara selama ini, proses mengaliri air dilakukan dengan sistem gravitasi dan bukan menggunakan pompa.

"Mangkanya, nanti yang diprioritaskan adalah daerah yang bisa dialiri dari ketinggian. Kalau daerah yang datar memang susah, kecuali menggunakan alat khusus yang bisa memompa air," jelasnya lagi.

Sutiaji menyampaikan, pemanfaatan sumber pitu saat ini sangat susah dilakukan. Pasalnya, meski tekanan sudah beberapa kali dikurangi masih saja terjadi kerusakan atau kebocoran pipa. Sehingga, saat ini memilih untuk menunggu pembenahan oleh Kementerian PUPR. Selanjutnya memanfaatkan sumber lain sebagaimana skema yang direncanakan.

"Kalau sumber pitu sudah sudah, delapan sampai sembilan kali itu kita benahi dan itu menelan anggaran yang nggak kecil," terang dia.

Dia juga menginteruksikan agar Perumda Tugu Tirta Kota Malang menambah Terminal Air di setiap titik. Selain itu juga memfungsikan kembali sumur bor yang ada. Sehingga bisa menjangkau rumah-rumah yang selama ini terdampak.

Selain itu, Dinkes Kota Malang juga ia perintahkan untuk menyediakan posko kesehatan. Terutama memeriksa kesehatan masyarakat yang selama ini harus ngangsu air dengan beban yang cukup berat. Kemudian memberikan vitamin pada warga terdampak yang ngangsu air setiap harinya.

"Akan segera saya koordinasikan dengan Dinkes," jelasnya lagi.

Sementara berkaitan dengan informasi yang menyebut adanya tangki air yang mengambil air dari sumber yang tak benar seperti got dan sungai, Sutiaji memastikan jika informasi tersebut tak benar. Sehingga dia meminta masyarakat tak panik. Selain itu juga meminta agar dinas terkait memonitor langsung kendaraan yang mendistribusikan air kepada warga terdampak.