Wali Kota Malang Sutiaji (baju hitam) saat meninjau SMPN 16 untuk mengklarifikasi dugaan penganiaayaan terhadap siswa berinisial MS. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji (baju hitam) saat meninjau SMPN 16 untuk mengklarifikasi dugaan penganiaayaan terhadap siswa berinisial MS. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kabar mengenai siswa  SMPN 16 Kota Malang berinisial MS yang diduga mendapatkan penganiayaan hingga jari tangannya akan diamputasi masih mendapat perhatian publik. Pagi ini (Senin, 3/2) Wali Kota Malang Sutiaji mendatangi SMPN 16 untuk mengklarifikasi kejadian pastinya.

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Zubaidah dan Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Ahmad Wanedi, jajaran petinggi di SMPN 16 -mulai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan beberapa guru- diminta memberikan keterangan.

"Pihak-pihak terkait dari kepala sekolah dan para wakaseknya, konselor, guru agama, saya kumpulkan. Saya mintai informasi secara rinci yang telah dilakukan. Tentu sesuai dengan laporan-laporan yang diperoleh ketika melakukan penggalian informasi itu," ujar Sutiaji.

Ia menjelaskan, dengan status MS sebagai siswa yang aktif berorganisasi dan menjadi ketua kelas, memang kejadian tersebut disampaikan berupa aktivitas gurauan oleh tujuh temannya.

"Dia aktif di paskibra, di BDI (badan dakwah Islam). Ketua kelas juga. Secara status sosial dan intelegensinya, anak ini (MS) sudah di atas rata-rata. Berangkat dari situ, informasi yang masuk ini murni karena gurauan," ucap Sutiaji.

Meski begitu, pria yang akrab disapa Aji ini tetap menyalahkan pihak sekolah. Apalagi, proses apakah itu hanya sebatas gurauan atau memang pem-bully-an tersebut memang dilakukan di lingkungan sekolah.

Sebelumnya, dijelaskan bahwa anak-anak di sekolah tersebut juga sempat bermain motor-motoran dengan menggunakan tubuh MS. Akhirnya, dari hal itu, jari tangan korban yang terluka tidak sengaja terinjak.

"Nah pada waktu di kelas malah ada tadi, ketika dia (MS) dipakai motor-motoran. Kan begitu praktiknya. Artinya dari proses yang panjang itu, dan apa pun tadi secara menyeluruh, saya tetap menyalahkan sekolah karena ini kejadian di sekolahan. Walaupun, secara kronologi katanya anak ini pernah dan dibenarkan  ibunya  bahwa tangannya terkena jepitan gesper. Kedua, pernah kedudukan temannya dan sudah minta maaf," ungkapnya.

Sedangkan terkait penyembuhan siswa tersebut, politisi Demokrat ini masih berkoordinasi dengan pihak rumah sakit yang merawat MS, yakni di RS Lavallette. Sebab, kondisi korban saat ini memang mengalami luka di bagian tubuh lainnya serta  lebam-lebam cukup parah di bagian kaki, punggung belakang, dan tangan.

"Dari proses panjang itu, korban mengalami kelebaman yang ketika tidak dilakukan secara cepat, maka dimungkinkan tadi Pak Dokter menyampaikan akan diamputasi. Cuma jelasnya, kronologi secara medis, saya akan temui direkturnya," pungkasnya.