Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Enam mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) saat ini masih terjebak di China lantaran gawatnya virus corona. Kendati lokasi mereka jauh dari Wuhan, yakni di Guilin, kampus Guangxi Normal University tempat mereka menjalani program pertukaran pelajar ikut di-lockdown. Para mahasiswa itu tidak boleh keluar dari asrama tempat mereka tinggal.

Kondisi mereka saat ini sehat. Namun, pihak UM melalui jurusan hingga saat ini terus memantau agar psikis enam mahasiswa tersebut tidak down.

"Melalui sekretaris, ketua jurusan, dan juga ketua korprodinya, kami selalu minta update, selalu menanyakan kepada anak-anak," ujar Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah.

 Kantor Hubungan Internasional UM yang diwakili jurusan selalu mengimbau kepada enam mahasiswa di China agar tidak panik dan mengikuti instruksi kampus.

"So far sih kayanya nggak (stres). Semoga tidak sampai begitu. Karena Guangxi Normal University itu juga mengambil prequetionary measures, menjaga agar teman-teman juga tetap sehat," kata Evi.

Sementara itu, seluruh area di China sekarang sudah siaga satu. Termasuk Kota Guilin tempat para mahasiswa UM itu menjalani studi dan tinggal. 

Para mahasiswa itu sendiri sudah tidak ada aktivitas perkuliahan lantaran sedang libur Imlek. Namun, mereka tidak boleh keluar asrama akibat adanya virus corona. Indonesia pun tidak bisa menarik pulang mahasiswa itu.

"Makanya, kami terus memantau bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia. Kami mau tarik (mahasiswa pulang), belum tentu boleh. Mereka berada di episentrum wabah. Risiko kalau ditarik. Karena kalau kami maksa narik, outbreak-nya bisa malah melebar ke sini,"  ungkap Evi.

Pemahaman tersebut juga terus diyakinkan kepada para orang tua mahasiswa tersebut. Sebab, saat ini UM memang tidak bisa mengambil langkah sendiri karena permasalahan yang sudah cukup pelik.

"Ini sudah permasalahan negara. Keamanan dan stabilitas juga. Sehingga tidak semudah itu kami langsung panggil masuk untuk pulang," ucap Evi.

Namun, Evi menegaskan bahwa di daerah Guilin masih aman dari virus corona. Meski begitu, yang bisa dilakukan oleh keluarga maupun kampus hanyalah sebatas memantau dari jauh dan sabar. "Bisa dibilang saat ini kami sabar dulu sambil melihat situasi bagaimana," katanya.

Mewakili kampus, Evi pun berharap agar wabah ini segera ditemukan jalan keluarnya. Misalnya antivirus. "Harapannya situasi segera kondusif," tandasnya.

Sementara itu, di Kota Wuhan sendiri, jumlah warga negara Indonesia yang terjebak berjumlah 98 orang. Dari angka itu, 93 di antaranya mahasiswa. Sementara 5 orang lainnya adalah ibu rumah tangga dan pekerja.

Mahasiswa asal Pekanbaru, Riau, Rio Alfi, yang tengah menjalani studi S2 di China University of Geosciences (CUG), Wuhan, Hubei, Tiongkok, menyatakan, kondisi psikis WNI di sana saat ini sudah mulai menurun. Sementara kondisi fisik sehat. Pasokan logistik juga sudah mulai menurun.

"Teman-teman di sini secara fisik alhamdulillah sehat, terhindar dari virus. Tapi psikologis ya memang sedikit down karena tidak tahu sampai kapan Wuhan akan diisolasi. Terus untuk logistik kan agak sulit juga mendapatkannya," ungkapnya saat dihubungi melalui telepon.