Jenazah Misnan alias Gerandong sesaat sebelum dievakuasi ke kamar mayat (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Jenazah Misnan alias Gerandong sesaat sebelum dievakuasi ke kamar mayat (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - “Keluarga Pra Sejahtera. Penerima Bantuan Sosial,”. Tulisan itulah yang terpampang ditembok samping rumah Misnan alias Gerandong, pelaku begal yang terbunuh saat wartawan mengunjungi kediamannya di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, pada pertengahan minggu lalu.

Tidak lama setelah wartawan mengetuk pintu rumah Misnan, muncul seorang anak perempuan berkulit sawo matang dengan tubuh lunglai. Dengan kondisi rambut yang masih acak-acakan, dan tatapan mata yang terlihat sayu, perempuan belasan tahun itu mempersilakan wartawan duduk di samping rumahnya.

Baca Juga : Mau Beli Handphone Todongkan Pistol, Pria Ini Ditangkap Polisi

Nyaris tidak ada kata yang terucap dari perempuan tersebut. Bahkan, beberapa sapaan dan pertanyaan wartawan terkesan diabaikan. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah rumah yang ada di ujung gang sempit tersebut.

”Oh iya, di sini rumahnya (Misnan), ke sana saja. Ruang tamu ada di depan. Lewat depan mas,” saut MS (insial) saat mempersilakan wartawan  bertamu di rumahnya.

Saat memasuki ruang tamu berukuran sekitar 2,5 X 3 meter tersebut, tidak ada kursi maupun sofa mewah di rumah MS. Hanya karpet berwarna merah, dan kain selambu penutup jendela dari kaca tersebut.

”Saya saudara kandungnya, saya adiknya. Kami dua bersaudara. Ini rumah saya, kalau rumah almarhum (Misnan) di sebelah, di samping pas rumah saya, yang rumahnya jelek itu,” ucap MS.

Lantas siapa perempuan yang membuka pintu saat kami bertamu? MS menjawab jika dia adalah putri sulung Misnan. 

”Tadi itu anak kandungnya (Misnan). Almarhum punya dua anak, yang pertama kelas 1 MTs (Madrasah tsanawiyah), yang kecil (bungsu) usianya masih jalan 7 tahun ini. Sekarang yang kecil ikut bibinya di Gondanglegi rumahnya,” ungkap MS.

Selain MS, juga ada sosok wanita renta yang duduk menjamu wartawan saat bertamu. Kulit dan wajahnya sudah keriput, sedangkan rambut wanita yang usianya sekitar 60 tahun tersebut sudah dipenuhi dengan uban. 

”Ini ibu saya dan almarhum (Misnan), namanya TR (inisial),” sambung MS.

Setelah menanyakan maksud dan tujuan wartawan berkunjung, MS yang sejak awal menggendong putranya itu, bergegas menyuruh putri sulung Misnan untuk memomongnya. Dengan mengunakan logat bahasa Madura, perempuan yang kini berusia 31 tahun itu, nampak menyuruh anak Misnan membuatkan kopi.

”Kopinya dimana, gulanya tidak ada,” kata putri sulung Misnan saat disuruh membuatkan kopi oleh MS.

Praktis sepanjang hampir satu jam bercengkrama, keluarga yang masuk dalam kategori miskin ini tidak bisa menghidangkan apapun saat ada tamu berkunjung di rumahnya. 

”Maaf mas, iya gimana mas ?,” ucap MS saat menjawab permintaan wartawan agar tidak usah menyajikan hidangan.

Susana haru mulai terasa saat wartawan mencoba bertanya soal keseharian Misnan. Dengan berlinang air mata, MS mengaku jika kakaknya yang telah meninggal tersebut merupakan seorang yang pekerja keras.

”Saya mengenalnya sebagai orang pekerja keras. Kerjanya serabutan, apapun dilakukan demi menghasilkan uang. Kalau pas tidak ada panggilan kerja, dia (Misnan) pergi ke sawah untuk cari burung gema,” terang MS.

Kebiasaan cari burung gema tersebut, diakui MS sejak Misnan masih berstatus bujang. Sedangkan waktu yang paling sering untuk mencari burung tersebut, dilakukan Misnan saat malam hari. 

”Tiap malam kalau pas tidak ada kerjaan, dia pergi cari burung gema. Hanya bawa senter, pulangnya selalu tengah malam. Kan kalau disenteri, burung gema itu akan sembunyi tidak akan lari. Jadi tinggal ditangkap,” jelas MS.

Dengan bermodalkan senter super terang itulah, Misnan bisa menangkap beberapa ekor burung gema dengan temannya. ”Dulu dikasih senter dari Arab, itu digunakan untuk cari burung gema. Biasanya habis magrib dijemput temannya dan diajak cari burung gema,” ujar MS.

Jika sedang beruntung, lanjut MS, Misnan bisa membawa pulang 15 ekor burung gema. Tapi jika sedang sepi, hanya bisa menangkap 2 ekor saja. 

”Biasanya kalau dapat banyak saya selalu dikasih, tapi kalau pas sepi ya dimasak sendiri untuk anak dan istrinya,” imbuh MS.

Selain hobi memburu burung gema, Misnan juga gemar mencari belut. Itu dilakukannya saat pagi hingga menjelang petang ketika dirinya tidak mendapat panggilan kerja serabutan dari juragannya. 

”Cari belut di belakang Stadion Kanjuruhan, saya pernah ikut kalau cari belut. Tapi kalau cari gema tidak pernah ikut, soalnya malam saya takut,” keluh MS.

Namun seiring berjalannya waktu, MS memilih untuk tidak ikut kakaknya mencari belut. Alasannya, selain susah ditangkap, proses mencari belut yang dilakukan saat siang hari membuat MS dan Misnan harus merelakan dirinya disengat teriknya matahari. 

Baca Juga : Miris, Pesta Seks dan Balapan Liar Masih Terjadi di Tengah Pandemi Covid-19

”Nunggu kail pancing sampai kulitnya (Misnan) hitam, saya tidak kuat. Jadi hanya ikut beberapa kali saja, itu pun pas masih sama-sama remaja dulu,” ungkap MS.

Namun siapa sangka, kebiasaan mencari burung gema yang dilakukan Misnan, ternyata menyebabkan dirinya meninggal dunia pada 8 September 2019 lalu. 

Jenazah pria 35 tahun itu, ditemukan tewas mengenaskan dengan luka tusukan di bagian dada dan semburan darah di rongga mulutnya.

”Sehari setelah tidak pulang dari memburu burung gema, saya dan keluarganya mencari keberadaan Misnan (9 September 2019). Saya yang pertama kali menemukan jenazahnya Misnan,” celetuk MS.

Berawal dari informasi teman Misnan yang juga memburu burung gema, keluarga Misnan bergegas mencari keberadaan Misnan di ladang tebu. 

”Semua keluarga besar ikut mencari Misnan, 4 rumah sodaranya kebetulan berdekatan. Kebanyakan perempuan, kami menyebar mencari Misnan di ladang tebu,” sambung MS.

Setelah beberapa saat mencari keberadaan Misnan, MS menemukan sandal yang mirip dengan milik kakak kandungnya tersebut. 

Dari petunjuk itulah, sekitar 200 meter MS akhirnya menemukan Misnan sudah terbujur kaku dengan kondisi tubuh serta wajah berlumuran darah.

”Saya menemukan sandalnya masih bersih. Dari sandal itu, sekitar 200 meter ditemukan mayatnya Misnan. Tapi darahnya berceceran sejauh 300 meter. Darahnya nyebar, kami beranggapan jika Misnan sempat berlarian ke sana kemari sebelum akhirnya meninggal dunia,” kata MS sembari meneteskan air mata.

Kejadian ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Semula keluarga Misnan beranggapan jika pria 35 tahun itu usai berkelahi. Namun dugaan itu sirna setelah beberapa senjata tajam milik almarhum masih ditemukan di dalam rumahnya.

”Misnan itu tidak punya riwayat penyakit kronis, jadi saya kira habis berantem. Tapi kok sabit dan pisau ada di rumah. Berarti dia dibunuh, saya ngiranya begitu. Makanya dilaporkan ke polisi,” tegas MS.

Seiring berjalannya waktu, MS yang mengikuti pemberitaan dan memantau media sosial mendapat jawaban jika ternyata kakaknya meninggal karena dibunuh saat melancarkan aksi pembegalan. 

”Kalau kakak saya memang begal, kami harus sadar diri. Tapi kalau memang begal, kok yang dibawa hanya senter saja, kok tidak bawa senjata. Biasanya begal itu kan ngancam pakai senjata,” ungkapnya.

Bantahan jika Misnan merupakan pelaku begal juga sempat diutarakan MS dan ibu kandungnya TR. 

Menurut MS, semasa hidupnya Misnan selalu hidup serba kekurangan. Bahkan sepulang dari berburu burung gema, tidak ada barang mewah maupun uang yang dibawa selain hanya hasil buruan.

”Tidak pernah bawa motor, HP (handphone), atau barang mencurigakan lainnya. Orang HP saja tidak punya, apalagi sepeda motor. Kalau mau bayar air saja pinjam motor ke saya atau ke bibiknya. Setiap berpergian, juga selalu dijemput. Demi Allah saya tidak berbohong,” pungkas MS.

Sebagai informasi, Misnan ini merupakan pelaku begal yang dibunuh oleh ZA. Pelajar SMA kelas XII itu, mengaku terpaksa membunuh Misnan dengan pisau lantaran dijadikan korban pembegalan dan teman wanitanya hendak diperkosa oleh Misnan.

Pisau yang digunakan untuk menusuk Misnan tersebut, merupakan pisau yang dijadikan praktik membuat stick es krim di sekolahnya. 

Akibat perbuatannya, ZA divonis hakim bersalah karena dianggap telah melakukan penganiayaan yang menyebabkan seseorang meninggal dunia. 

Atas putusan hakim tersebut, ZA dituntut 1 tahun pembinaan di LKSA Darul Aitam.