Peta kekuasaan  Kerajaan Majapahit yang akan dilahirkan lagi. (Ist)
Peta kekuasaan Kerajaan Majapahit yang akan dilahirkan lagi. (Ist)

MALANGTIMES - Bermunculannya kerajaan-kerajaan baru yang menghebohkan beberapa waktu lalu ternyata memiliki cerita panjang menarik bila ditelusuri dengan sosok-sosok di dalamnya. Khususnya dengan keterkaitannya dengan wilayah eks Kerajaan Singhasari, Kabupaten Malang.

Sebut saja Raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso yang kini meringkuk di sel penjara. Dari beberapa keterangan, dia pernah tinggal di Dusun Meduran, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, dengan nama Joko Santoso.

Keberadaan Toto Santoso ini pun sempat terekam sebelum viral Kerajaan Agung Sejagat. Yakni saat dia menjadi bagian dari Sunda Empire.

Melongok ke belakang, sebelum viralnya dua kerajaan tersebut, ada cerita yang juga menarik dan bisa terkait satu sama lainnya. Yakni, adanya kedatangan seorang lelaki berusia senja ke kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang.

Kedatangannya dalam rangka mencari silsilah Majapahit (1293-1500 M) yang bersumber dari Kerajaan Singhasari yang mengawali berdirinya tatanan dan sistem kuat pemerintahan era saat itu.

"Saat itu datang seorang bapak-bapak mencari silsilah atau asal usul Majapahit ke kantor. Dirinya menyampaikan akan kembali mendirikan Kerajaan Majapahit. Rajanya sudah ada. Juga dana untuk mendirikan kerajaannya," ucap salah satu petugas Disparbud Kabupaten Malang yang tak berkenan disebut namanya, Selasa (28/1/2020).

Lelaki yang juga mengaku sebagai utusan raja yang diduga mengarah ke Totok Santoso itu meyakini bahwa sudah saatnya Indonesia kembali dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Sistem pemerintahannya pun sudah waktunya kembali ke kerajaan.

Lirikan mereka ke Kabupaten Malang pun bukan hanya sekadar mencari asal usul Majapahit yang lahir setelah kejayaan Singhasari yang didirikan Ken Angrok (1222 M) meredup akibat pertempuran dengan Kerajaan Kediri yang dipimpin Jayakatwang. Tapi juga dimungkinkan sebagai wilayah dengan 'tuah yang masih bersinar' dengan jejak Kerajaan Singhasari.

Seperti diketahui, di era Singhasari dengan raja terakhir dan terbesarnya, Kertanegara (1268-1292 M), penyatuan Nusantara mulai dilaksanakan. Baik melalui politik dalam dan luar negerinya, sehingga Singhasari memiliki kekuasaan sampai luar Jawa seperti  Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

Bahkan, para pendiri bangsa Indonesia pun menyadap inspirasi lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, dari relief Candi Kidal, Tumpang, yang merupakan salah satu  warisan dari Kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227-1248).

"Jadi, kedatangan bapak itu ingin membuktikan adanya silsilah Kerajaan Singhasari dengan Majapahit yang akan didirikannya. Dia yakin bahwa sudah saatnya Indonesia kembali ke kerajaan yang dipimpin oleh raja dan ratu untuk mengembalikan kejayaan Nusantara saat ini," ujar petugas Disparbud Kabupaten Malang tersebut.

Dirinya juga menyebutkan bahwa memang bukan sekali dua kali orang-orang itu bergerilya untuk membangkitkan kerajaan di Indonesia. "Pernah tahun 2019 lalu, sekitar Oktober dan November, ada pertemuan para raja-raja di Songgoriti. Bapak yang datang ke kami  juga bagian dari acara itu," lanjutnya.

Berkilaunya masa kejayaan Singhasari yang digantikan Kerajaan Majapahit memang tak bisa dilepaskan dari jejak darah Ken Angrok yang mendirikan wangsa Rajasa. Pendiri Majapahit Raja Wijaya  (1293-1309 M) dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, menurut Pararaton Nagarakretagama dan prasasti Kudadu, merupakan cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara. 

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari. Dia menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Angrok.

Jejak sejarah itulah yang dimungkinkan membuat para 'raja dan ratu' serta utusan-utusannya juga 'ngebet' untuk mendirikan kembali Majapahit yang memiliki masa keemasan di era Raja Hayam Wuruk atau Rajasanagara (1350-1389) berkat dukungan Mahapatih Gajah Mada.

Tentunya untuk menguatkan logika mereka itulah, Singhasari tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Sehingga berbagai jejak kejayaan Singhasari yang masih bisa dilihat sampai saat ini bisa menjadi penguat dalam pembentukan kerajaan baru seperti yang ramai saat ini.