Dr Mansur Fauzi SE MSi, PTP Ahli Utama Pusdatin Kemdikbud. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Dr Mansur Fauzi SE MSi, PTP Ahli Utama Pusdatin Kemdikbud. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mewajibkan setiap guru untuk membuat konten di portal Wajib Belajar.

Hal itu disampaikan oleh Dr Mansur Fauzi SE MSi selaku Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Utama Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud.

"Setiap guru wajib membuat konten sesuai dengan materi pelajaran yang diampu," ucapnya kepada MalangTIMES dalam kunjungan kerjanya ke Malang.

Apabila setiap guru di Indonesia membuat konten-konten positif, maka konten-konten negatif yang saat ini tersebar di dunia maya akan tergeser dengan sendirinya.

"Jumlah guru itu hampir 4 juta. Kalau satu guru satu, ada 4 juta konten. Kita upload ke YouTube habis itu yang negatif terlindas," katanya.

Tak sekadar menampung konten dari guru, Pustekkom selaku leading sektor dalam pemanfaatan dan pendayagunaan IT untuk pembelajaran juga akan melakukan seleksi konten-konten yang memenuhi syarat untuk diunggah di Rumah Belajar dan YouTube.

"Kita nggak mungkin sebagai instansi pemerintah meng-upload konten yang asal-asalan. Kita udah selektif melalui proses mekanisme yang betul-betul sesuai dengan norma-norma yang baik," timpalnya.

Dikatakan Mansur, saat ini guru yang membuat konten sudah ribuan. Namun angka tersebut masih sangat sedikit.

"Tetap saja masih kurang. Sebaiknya konten-konten itu sebanyak-banyaknya. Maka dari itu diwajibkan dalam rangka melawan kekuatan konten negatif," ucapnya.

Sementara untuk konten-konten yang negatif, menjadi tugas Kominfo untuk menghapusnya. Mansur menyatakan, dari hasil penelitian sekitar 800 ribu konten yang termuat di YouTube adalah konten negatif.

"Hanya 250 ribu yang positif. Kasihan generasi muda kita, siswa kita, anak-anak kita kalau disuguhi konten konten negatif terus," timpalnya.

Konten-konten negatif tersebut seperti pelecehan seksual, pornografi, bully, kekerasan, narkoba, hoax, dan lain-lain. Maka dari itu, penyelenggara pendidikan tidak boleh diam.

"Tentu kita sebagai penyelenggara negara tidak boleh tinggal diam. Kita harus mengubah ini, bagaimana caranya, meskipun tantangannya cukup berat, tapi kita harus berjuang terus mewujudkan supaya generasi yang lahir di kemudian hari harus lebih baik dari kita," tandasnya.