Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Di tengah persaingan perguruan tinggi yang makin sengit, masih ada pengajuan pendirian perguruan tinggi baru di Jawa Timur. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA menyampaikan, hingga bulan Desember 2019 kemarin, kurang lebih ada 7 pengajuan baru.

"Sampai Desember kemaren kurang lebih ada 7 pengajuan baru. Ya kami proses. Kami bagian proses bagian tertentu, kemudian sisanya ke Jakarta," ungkapnya saat kunjungan kerja ke Malang kepada MalangTIMES.

Beberapa perguruan tinggi yang diajukan tersebut di antaranya ada di Jember dan Blitar.

"Salah satunya ada dari Jember, Blitar, beberapa saya lupa," ucapnya.

Selain pengajuan perguruan tinggi baru, Suprapto mengungkapkan, banyak juga pengajuan program studi (prodi) baru.

"Yang diajukan oleh perguruan tinggi sekarang sudah bagus. Artinya mengacu kepada yang dikatakan oleh Presiden Jokowi. Jadi jangan prodi-prodi yang kuno-kuno," terangnya.

Seperti yang diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perguruan tinggi mengikuti perkembangan zaman. Salah satu caranya dengan menghapus fakultas dan prodi lama serta menggantinya dengan fakultas dan prodi baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia sempat protes soal pilihan prodi di Indonesia. Menurutnya, prodi di Indonesia cenderung tidak ada perubahan dari tahun ke tahun, serta belum memenuhi kebutuhan industri dan perkembangan zaman.

"Yang nggak laku di pasaran mestinya sudah mati dengan sendirinya," timpal Suprapto.

Pengajuan prodi baru yang ditampung Dikti Jawa Timur, kata dia, kebanyakan adalah prodi-prodi STEM (Sciences, Technology, Engineering, and Mathematics).

"Yang diberi adalah yang STEM. Sciences, technology, engineering, dan mathematics. Yang lainnya enggak," ungkapnya.

Sebagai tambahan, Suprapto juga mengimbau kepada perguruan tinggi di Jawa Timur untuk melakukan program percepatan guru besar. Diakuinya, jumlah 158 guru besar yang ada saat ini belum seimbang dengan jumlah perguruan tingginya. Maka untuk menyeimbangkannya, Suprapto meminta dalam 3 tahun ke depan ada 20 profesor baru setiap tahunnya.

"3 tahun ke depan saya ingin jumlah profesor tiap tahun di Jatim itu ada 20 setiap tahun. Tahun 2019 kemarin baru ada 13 profesor per tahun," tandasnya.