Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Wacana mendatangkan dosen asing ke Indonesia telah mencuat sejak tahun 2018. 

Wacana impor dosen ini menjadi bagian dari berlakunya Perpres No. 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing yang diteken Presiden Jokowi. 

Tujuan impor dosen asing ke Indonesia yakni agar bisa mengerek daya saing perguruan tinggi Indonesia di mata dunia.

Wacana tersebut menuai pro dan kontra. 

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA termasuk ke dalam pihak yang menentang. 

Ia menilai, Indonesia tak kekurangan dosen yang berkualitas.

"Wong di Indonesia ada," katanya saat kunjungan kerja ke Malang.

Jumlah profesor di Indonesia pun sudah banyak. Bidang ilmunya juga sudah merata, terlebih di Jawa Timur.

"Sudah merata dan banyak. Kita kan Jawa Timur kalau PTS (Perguruan Tinggi Swasta)-nya punya 158 guru besar. Masa' 1-2 nggak nyantol yang diinginkan kementerian," ungkapnya.

Diakuinya, jumlah 158 guru besar itu memang belum seimbang dengan jumlah perguruan tingginya. 

Maka untuk menyeimbangkannya, Suprapto meminta dalam 3 tahun ke depan ada 20 profesor baru setiap tahunnya.

"Makanya 3 tahun ke depan saya ingin jumlah profesor tiap tahun di Jatim itu ada 20 setiap tahun," ucapnya.

Sementara tahun 2019 kemarin, kata Suprapto, baru ada 13 profesor per tahun.

"Kalau tahun 2020 ini ya 20 (profesor) pertahun Insya Allah. Sekarang sudah banyak yang antri. Artinya, kita harus optimis bahwa negara kita itu banyak SDM. Masa' kita kekurangan SDM. Ada lah," katanya.

Suprapto menjelaskan, yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia adalah SDM yang profesional. Sebab Indonesia memang kekurangan tenaga profesional.

"Nah, itu yang diinginkan pemerintah di sini. Indonesia kekurangan orang-orang seperti itu," timpalnya.

"Kita ingin maju pendidikan. Makanya dosen-dosennya harus yang profesional. Di sini dianggap masih kurang. Makanya terus ada wacana akan mengimpor profesor, mengimpor tenaga pengajar dari luar," terangnya lebih lanjut.

Saat ini, realisasi impor dosen sendiri sudah dilakukan. Telah muncul rektor asing pertama Indonesia di Universitas Siber Asia, yakni profesor asal Korea Selatan (Korsel) bernama Jang Youn Cho.

"Sudah ada sih buktinya. Ada pimpinan perguruan tinggi swasta di Jabar itu, profesor dari Korea," tandasnya.