Tangkapan layar situs PN Kepanjen yang diretas hacker, Minggu (19/1/2020). (www.pn-kepanjen.go.id)
Tangkapan layar situs PN Kepanjen yang diretas hacker, Minggu (19/1/2020). (www.pn-kepanjen.go.id)

MALANGTIMES - Situs Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kabupaten Malang, yang memiliki domain di www.pn-kepanjen.go.id diretas hacker.

Dalam tampilan berandanya, saat kita masuk ke situs itu, akan langsung keluar latar belakang hitam dengan tulisan berwarna putih, tepat di tengahnya.

"Hacked By Limit(Ed)&4LM05TH3V!L
Ngebela diri kok dipenjara
Begal dibela pelajar dipenjara
Hukum sobat gurun emang beda!" 

Begitulah tampilan diberanda situs PN Kepanjen, Minggu (19/1/2020) saat kita akan masuk ke lamannya.

Belum diketahui pasti kapan situs itu diretas oleh hacker. Tapi, melihat tulisan atau pesan yang disampaikan di lamannya itu, situs PN Kepanjen dibobol karena kasus matinya seorang begal di tangan seorang pelajar berinisial ZA, awal September 2019 lalu.

Kasus itu menjadi viral di masyarakat karena ZA akhirnya menjalani persidangan di PN Kepanjen. ZA  dalam penyidikan menyampaikan dirinya membunuh begal bernama Misnan alias Grandong, warga Dusun Penjalinan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, karena membela diri dan teman wanitanya.

Saat itu, Misnan tidak hanya meminta barang milik ZA, yaitu  sepeda motor dan HP,  tapi juga akan memerkosa teman wanita ZA yang saat itu diboncengnya. Terus didesak, pelajar kelas XII SMA itu akhirnya  melakukan perlawanan. Yakni dengan cara mengambil pisau yang ada di dalam jok motornya, yang kemudian menusukkan ke dada pelaku begal.  Pisau itu, menurut pihak sekolah ZA, digunakan untuk praktik membuat stik es krim. 

Walau menyatakan dirinya membela diri dan teman wanitanya atas perbuatan begal, kasusnya terua dilanjutkan. ZA pun disidang perdana Selasa (14/1/2020) lalu serta didakwa 4 pasal. Masing-masing Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup, Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun, Pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara, dan Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Eksepsi kuasa hukum ZA di sidang ketiga ditolak oleh  majelis hakim Nunik Defiary Jumat (17/1/2020). Hakim meminta persidangan harus tetap dilanjutkan. Dalam sidang kedua Rabu (15/1/2020) lalu, kuasa hukum mengajukan eksepsi menolak dakwaan yang dibacakan JPU (jaksa psnuntut umum).

Sidang ZA pun akan kembali digelar Senin (20/1/2020) besok dengan agenda pemeriksaan keterangan para saksi.

Peristiwa hukum atas ZA inilah yang kemudian menjadi viral di media sosial. Berbagai pernyataan atau komentar miring atas hal itu pun ditujukan kepada para penegak hukum atas nasib yang akan menimpa ZA ke depannya.

"Membela diri dari begal sadis malah kena dipenjara. Jadi membela diri dari penjahat yang dibenarkan oleh pihak pengadilan/hukum itu seperti apa," kometar akun yra_ngga.

Begitu pula akun di medsos lainnya yang menyayangkan bahwa peristiwa itu sampai ke meja hijau. "Heran sama jaksa penuntut umum kok bisa-bisanya pasal pembunuhan berencana. Logical fallacy, di luar nalar saya," komentar ranxvrus.

Dari berbagai komentar miring di medsos ini pula, dimungkinkan para hacker pun mulai beraksi. Yakni dengan mengambil alih situs PN Kepanjen serta menuliskan kalimat menohok atas peristiwa yang menimpa ZA.

Belum ada konfirmasi resmi dari pihak PN Kepanjen sampai berita ini ditulis. Begitu pula dari pihak hacker terkait psy-war yang membuat situs resmi PN Kepanjen lumpuh total dan tak bisa diakses.