Suasana pengajian bulanan di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Minggu (19/1) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana pengajian bulanan di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Minggu (19/1) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tolak ukur memaknai keberuntungan seringkali dicap oleh banyak orang dengan kelimpahan harta. Dengan banyaknya harta, maka kehidupan seolah dinilai lebih baik.

Makannya, banyak juga dari orang-orang yang rela menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan itu. Sikap ambisius, dan mengabaikan kebenaran.

Baca Juga : Kampanye "Bismillah" Ala UIN Malang untuk Cegah Penyebaran Corona

Padahal, hal-hal seperti itu malah membuat perilaku mereka terjerumus dalam dosa. Lantas, bagaimana cara mengukur keberuntungan hidup seperti Nabi Muhammad SAW?

Pembahasan ini yang diceritakan kepada para jemaah Pengajian Rutin Bulanan di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, hari ini (Minggu, 19/1). Ustadz Muhammad Muwidha membeberkan cara mengukur hidup dalam Islam dengan berpedoman ajaran Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, penting bagi manusia untuk mengukur keberuntungan hidup. Ia menjelaskan, orang yang benar-benar beruntung di dunia dan di akhirat menurut Nabi Muhammad SAW, yakni seorang yang mengabdi dalam agama Islam. Namun, saat ini banyak orang yang mengabaikan agamanya.

"Tapi, saat ini banyak yang merasa Islam, tapi bukan Islam. Karena mereka masih mencari tahu dengan mengais ilmu lain. Maka untuk mendapat keberuntungan itu, dalami agama Islam dengan baik. Ingin dunia baik, maka akhiratnya juga baik. Banggalah jadi orang yang memiliki keberuntungan dengan menjadi hamba Allah," jelasnya.

Kemudian, mengukur keberuntungan yang berikutnya yakni dengan dikaruniai rezeki yang cukup. Selama ini, banyak orang yang kerap mencari jalan pintas dalam mengais rezeki. Padahal, Rasulullah menjadikan petunjuk bahwa seorang beragama Islam telah diberi rezeki yang cukup.

Baca Juga : Ini Kebijakan Mendikbud Nadiem soal UN, UAS, hingga PPDB

"Bahkan Nabi lebih memudahkan kita, ada salah satu sahabat Nabi bertanya, sugih itu nopo (kaya itu apa)? Nabi menjawab, kaya itu adalah yang paling pokok kaya jiwa. Dan hanya orang beriman yang diberi kepercayaan kaya jiwa ini. Dengan ketenangan hidup, tidak ada yang ribut dengan urusannya lagi," imbuhnya. 

Lebih lanjut, kata dia dengan menerapkan sifat qanaah, menerima nikmat yang telah diberikan Alloh SWT. Artinya, ada jiwa yang menerima, tidak lagi rakus dengan menginginkan yang lebih dari apa yang dihasilkan.

"Belajarlah dari apa yang diberikan Allah. Caranya qanaah, jangan pernah melihat punya orang lain. Banyak yang kaya materi tetapi hatinya merasa kurang, akhirnya kecewa. Yang pasti diberikan kepada manusia itu sehat, dan kecukupan. Maka ridha-lah dalam menerima rezeki pemberian Allah SWT," tandasnya.