Profesor bidang ilmu arsitektur ITN Malang Prof Dr Ir Lalu Mulyadi MT. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Profesor bidang ilmu arsitektur ITN Malang Prof Dr Ir Lalu Mulyadi MT. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pembangunan kota yang membabi buta di Indonesia sering tidak memperhatikan kearifan lokal yang ada. Kini, banyak kota di Indonesia yang telah kehilangan arsitektur  kearifan lokalnya.

Hal ini disampaikan oleh guru besar bidang ilmu arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Prof Dr Ir Lalu Mulyadi MT. "Sekarang ini banyak sekali kota yang tidak memperhatikan kearifan lokal," ucapnya.

Baca Juga : Sikapi Covid-19, Profesor UIN Malang Beber Hubungan Manusia dengan Kosmos

Lalu dikukuhkan sebagai profesor bidang Iimu arsitektur dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITN Malang Sabtu (18/1/2020). Bertempat di di aula Kampus 1 ITN Malang, Lalu menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Arsitektur Kota Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal".

"Berbasis pada kearifan lokal yaitu kalau membangun kota itu harus melihat bagaimana identitas atau karakteristik dari kota itu sendiri, khususnya arsitektur," terangnya.

Menurut Lalu, bangsa ini harus menggali kearifan lokal yang ada untuk memberikan karakter dan identitas pada setiap kota. "Maka dari itu, saya mengambil tema yang sangat signifikan untuk mengubah dan membantu pemerintah dalam kaitannya dengan memperhatikan kearifan lokal yang ada di masing-masing kota di seluruh Indonesia. Negara-negara maju sudah melakukan itu. Kenapa di Indonesia tidak?" paparnya.

Lalu memperhatikan, Kota Malang sudah mulai memperhatikan bangunan-bangunan kolonial yang ada. "Saya lihat di Kota Malang sudah mulai mempertahankan karena itu merupakan aset dan itu juga merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang ada di Kota Malang. Dengan adanya heritage dan seterusnya, itu kan merupakan mempertahankan dan melestarikan bangunan-bangunan yang ada di kota Malang itu sendiri," katanya.

Ia mencontohkan, arsitektur yang memperhatikan kearifan lokal sejauh ini adalah Singapura, Malaka, dan Pulau Pinang. "Lalu ada Paris dan hampir semua  di Belanda dan seterusnya. Itu semua menggunakan kearifan lokal yang ada di situ. Malah justru kearifan lokal yang ada di situ kemudian dimanfaatkan untuk destinasi wisata," lanjutnya.

Di Indonesia sendiri, Lalu optimistis Malang bisa dijadikan percontohan. "Kota Malang kalau konsentrasi betul bisa. Yang kedua barangkali Malioboro boleh juga," katanya.

Baca Juga : UIN Malang Tetap Hidup dan Bernapas di Tengah "Kota Mati"

Hanya, untuk mewujudkannya, perlu greget dari pemerintah daerah. Sebab, arsitektur kota adalah suatu elemen yang sangat menunjang kenyamanan penduduk yang tinggal dalam kota itu.

"Kota itu adalah rumah kita yang sangat besar. Rumah adalah kota yang sangat kecil. Sehingga kalau kita berbicara tentang rumah, maka bagaimana rumah itu supaya bisa nyaman sebagai tempat tinggal kita," tutur dia.

Dengan gelar baru yang disandangnya ini, Lalu mengaku akan berkonsentrasi terhadap bidang ilmunya, yakni arsitektur kota untuk Indonesia. "Saya kepingin memberikan kontribusi kepada seluruh kota yang ada di Indonesia, bahkan ke luar negeri," tandasnya.