Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Doc. MalangTIMES)
Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Doc. MalangTIMES)

MALANGTIMES - Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki banyak sekali perbedaan, mulai dari pulau, suku, ras, budaya, hingga agama. Untuk itu, sikap toleran merupakan hal yang mutlak untuk menjaga perdamaian.

Untuk itu, perguruan tinggi yang merupakan tempat para pemikir dan calon pemimpin, memiliki tanggung jawab menjaga toleransi di Indonesia. Yakni dengan menanamkan sikap toleran terhadap mahasiswanya. Dalam hal ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) terus konsisten melakukannya.

Baca Juga : Ungkapan Mahasiswa Asing UIN Malang yang Terisolasi di Kampus

UIN Malang sangat menekankan pemahaman soal toleransi terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Dimulai dari mahasiswa baru yang masuk ke dalam ma'had. "Kalau UIN Maulana Malik Ibrahim sejak awal sudah ditanamkan tentang toleransi yang dasarnya justru dari agama sendiri," ujar Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg kepada MalangTIMES.

Misalnya, lanjut Prof Haris, potongan ayat Lakum Dii Nukum Wa Liya Diin yang mempunyai arti “Bagimu agamamu, bagiku agamaku".

"Itu diajarkan di ma'had. Ini menandakan bahwa sesungguhnya Islam itu sangat toleran. Jadi hidup di pluralitas itu boleh. Mengapa demikian? Karena memang Allah mengajarkan begitu, bahwa kita itu berbeda, bahkan sesama Islam aja berbeda," bebernya.

Misalnya, ada muslim yang berjilbab, ada yang tidak, dan contoh-contoh lain. Hal ini, menurut Prof Haris, tidak bisa disalahkan. "Dengan demikian, maka sesungguhnya PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) UIN Maliki mensupport luar biasa terhadap pluralitas keberagamaan ini," katanya.

Baca Juga : Masih Siaga Covid-19, UB Mudahkan Proses Daftar Ulang Mahasiswa Baru

Sementara, apabila terdapat mahasiswa yang telanjur memiliki sikap intoleransi, maka Menurut Prof Haris perlu dididik dengan cara diajak berdiskusi. "Jadi diajak berdiskusi, bahwa kehidupan kita di dunia, bukan hanya di Indonesia, itu plural. Kita harus menerima realitas yang ada. Nggak boleh saling menyingkirkan," ucapnya.

Apabila hal ini bisa dipahami, kata Prof Haris, insya Allah akan bisa meredakan ketegangan-ketegangan yang ada di dunia. Misalnya peperangan atau konflik yang tidak kunjung selesai. "Kita tahu di Timur Tengah misalnya sekarang antara Amerika dengan Iran. Ini harus disuarakan dari kita untuk menerima perbedaan," pungkasnya.