Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Husnul Hakim (2 dari kanan) dalam acara Rakorcab Banser (GP Ansor for MalangTIMES)
Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Husnul Hakim (2 dari kanan) dalam acara Rakorcab Banser (GP Ansor for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menghadapi Pilkada serentak 2020, peta perpolitikan di Kabupaten Malang semakin menarik untuk dikupas. Khususnya terkait kekuatan besar yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama (NU) beserta badan otonom (Banom) yang selama ini cukup potensial mewarnai berbagai peristiwa politik.

Walau tak berpolitik praktis, kekuatan NU dan sayapnya, menjadi perhatian serius partai politik (parpol) yang akan berkontestasi di tahun 2020. Pasalnya, dukungan NU dan berbagai banom-nya, seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor, memiliki keseksian tersendiri bagi para parpol dalam meraih target kemenangannya.

Baca Juga : Ini Jawaban Ustaz Yusuf Mansur saat Ditanya Apakah Dukung Anies Baswedan Maju Pilpres 2024

Hal ini tak disangkal oleh para petinggi parpol di Kabupaten Malang. Baik PDI-Perjuangan, PKB, Golkar, Gerindra, NasDem serta parpol lainnya. Dengan jumlah personal dan militansi saat dukungan telah dijatuhkan, kekuatan dari NU dan Banom-nya bisa jadi penentu kemenangan.
Maka, tak salah juga para bakal calon kepala daerah yang akan jadi calon dari parpol pun, mencoba untuk menarik hati Nahdliyin di Kabupaten Malang ini. 

Kondisi ini tak ditampik oleh Ketua GP Ansor Kabupaten Malang, Husnul Hakim Syadad, yang menyampaikan pihaknya terus memantau peta perkembangan politik Pilkada 2020. 

"Kami lihat dulu dinamika dan petanya terkait Pilkada 2020 ini. Kalau memang ada kader Ansor atau Banser yang maju, itu yang akan kami dukung. Tapi, tentunya kami menunggu instruksi atau petunjuk dulu dari para kiai sepuh," ucapnya, Senin (13/1/2020).

Pernyataan itu sesuai dengan berbagai prediksi para pakar atau pengamat politik. Dimana, dukungan Nahdliyin maupun Banom NU bukan didasarkan pada garis instruksi parpol, misalnya PKB yang memiliki sejarah dan sedarah dengan pendirian partai yang diketuai Muhaimin Iskandar ini.

Kedekatan NU dan Banom-nya lebih pada hubungan emosional dengan para kiai yang ada di berbagai pondok pesantren. Sehingga keputusan untuk mendukung salah satu calon pun berada di para kiai tersebut. 

Hal ini dipertegas oleh Husnul yang menyampaikan, Ansor tidak ada kaitannya dengan struktur partai politik manapun. "Ansor merupakan banom NU. Oleh sebab itu, petunjuk kiai, ulama dan PCNU sangat penting untuk langkah Ansor dalam tahun politik ini. Kita akan menentukan sikap setelah sowan ke para kiai di Kabupaten Malang," ujarnya.

Patronisme ini pula yang sempat tercatat dalam jejak Pilpres 2019 lalu. Dimana Joko Widodo menggandeng Ma'ruf Amin serta melakukan pendekatan-pendekatan kepada para kiai sepuh NU, seperti (Alm) Mbah Maimoen. Garis komando para kiai ini pula yang terlihat akan dijalankan oleh Banom NU dalam menghadapi Pilkada 2020.

Walau dimungkinkan dari GP Ansor atau Banser tak tersaring sebagai calon yang akan diusung oleh parpol. Banom NU di bawah kepemimpinan Husnul, akan mendukung siapapun calon yang nantinya dipilih oleh para kiai sepuh NU di Kabupaten Malang.

Disinggung berbagai kader terbaik NU yang siap berlaga walau belum dipastikan menjadi calon yang diusung, seperti Umar Usman Ketua PCNU Kabupaten Malang maupun Hasan Abadi Ketua LP Ma'arif. Keduanya menjadi sosok penting dalam kontestasi Pilkada 2020 di Kabupaten Malang ini. 

Baca Juga : Dewan Dorong Pemkot Malang Salurkan Bantuan Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

Dengan pola yang ditegaskan Husnul, kedua sosok ini akan bisa mewarnai peta politik dengan jabatan yang disandangnya sampai saat ini. Sekaligus jejak rekamnya di tubuh NU selama ini.
Tak heran pula Sekretaris PKB yang secara sejarah paling dekat dengan NU, Muslimin, menyampaikan, bila kekuatan organisasi masyarakat (ormas) terbesar di Indonesia ini mendukung penuh calon yang diusungnya. Maka, PKB siap berkoalisi dengan NU tanpa perlu menggandeng parpol lainnya. 

Terpisah, Bupati Malang Sanusi yang aktif 'bergerilya' di lingkungan NU dan Banom-nya, seperti di Rakorcab Banser, beberapa hari lalu, menyampaikan, bahwa keberadaan ormas keagamaan terbesar ini memang sangat berperan penting dalam berbagai pembangunan.

Dengan jejak rekam dan jumlah personalnya yang mengakar sampai tingkat desa, Banom NU seperti Ansor dan Banser, menjadi aset berharga yang harus terus didorong keberadaannya. 

"Harapan saya Banser semakin solid ke depannya hingga lebih baik dan sukses. Banser juga saya harapkan harus selalu ada di tengah masyarakat," ujar bacalon bupati dari PKB yang tak berharap bahwa keberadaanya diberbagai kegiatan NU disebut sebagai cara merebut simpati dan suara Nahdliyin.

"Karena saya ini memang kader NU sejak lama. Jadi ada kewajiban moral saya sebagai kader untuk menghadiri kegiatan NU. Itu pun bila tak ada tugas kepemerintahan sebagai bupati," tandas Sanusi.