Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian (tujuh dari kiri) saat foto bersama pengurus KPU, Panwaslu, Saksi dan Timses (ist)
Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian (tujuh dari kiri) saat foto bersama pengurus KPU, Panwaslu, Saksi dan Timses (ist)

MALANGTIMES - Pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), sempat berujung perselisihan (11/1/2020). Pasalnya terdapat pasangan calon yang tak setuju akan hasil pemilihan yang dinilai terdapat kecurangan karena adanya sekitar beberapa suara yang hilang.

"Kemarin ada peristiwa yang merupakan dinamika biasa dalam pemilu Presma. Sudah dijelaskan namun mungkin ada yang masih belum menerima. Memang ada selisih tiga suara yang hilang, sehingga kontestan meminta klarifikasi bagaiamana dengan hal itu," jelas Rektor Unikama Dr. Pieter Sahertian.

Dijelaskannya, jika selisih tiga suara tersebut, jikapun memang hilang, maka pemenangnya tetap saja sama, yakni kontestan nomor satu. Sebelumnya kemarin (11/1/2020) pihaknya juga telah diundang karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) kampus untuk penetapan suara yang sah dan juga penetapan siapa pemenangnya.

Namun karena dalam prosesnya terdapat temuan-temuan kekurangan yang sebenarnya tidak signifikan, akhirnya penetapan suara dan pemenang diundur agar membuat suasana kondusif.

"Selisih suara itupun jika dibuang dari suara pemenang, hasilnya sama saja, masih tetap menang karena selisihnya jauh. Tapi karena mahasiswa terkadang egonya memang besar sehingga suasana tidak terkendali akhirnya saya tunda," bebernya. 

Setelahnya, pihak Unikama terus melakukan pendekatan terhadap semua pihak, sehingga semuanya pagi ini (12/1/2020) bisa menerima hasil dari pemilu Presma secara lapang dada.

"Saya minta yang menang juga merangkul pihak yang kalah dalam membentuk kabinetnya dan tidak lantas sombong telah menjadi pemenang. Yang kemarin kita sayangkan ada yang memanggil rekannya dari kampus lain. Sebenarnya itu kan nggak bagus," bebernya

Kesepakatan menerima hasil pemilu Presma, dilakukan dengan penandatanganan berita acara. Terdapat dua berita acara, berita acara yang pertama yakni berita acara suara yang sah yang ditandatangani para peserta pemilu, kemudian berita acara kedua yakni berita acara penetapan pemenang yang ditandatangani ketu pemilihan.

Pihaknya juga menegaskan, agar para mahasiswa melakukan hal yang wajar dalam politik mahasiswa. Mereka diharapkan tidak memasukan politik sektarian maupun politik primordial dalam lingkungan kampus, yang itu bukan hal bagus.

"Kampus kita kan multikultur, sehingga hal itu tidak bagus. Kalau memang tidak bisa mewarnai multikultur, maka silahkan angkat kaki dari sini. Kampus itu seperti kawah candradimuka untuk mereka ditempa. Itu sebagai bekal nantinya ketika mereka kembali ke masyarakat maupun dalam profesi yang mereka jalani," paparnya. 

Sementara itu, adanya tudingan dari salah satu pihak mengenai intervensi pihak KPUD dan keberpihakan pada salah satu pihak, dibantah Rektor. Pihaknya menegaskan, jika tidak ada intervensi atau keberpihakan pada salah satu kontestan.

"Tidak ada lah seperti itu. Saya malah tidak mendengar tudingan seperti itu. Saya beri kesempatan yang sama. Kalaupun ada yang datang untuk konsultasi, saya selalu terima, saya dukung semua. Siapapun yang menang adalah mitra kami, mereka bisa menjadi kontrol bagi kampus. Kalau ada pelayanan kampus yang tak benar dan tak baik mereka yang akan jadi pengontrol," jelasnya. 

Terakhir, pihaknya juga mengungkapkan permohonan maaf kepada  masyarakat sekitar akan adanya situasi yang sempat mengganggu kenyamanan masyarakat. Ke depan pihaknya berjanji akan lebih membuat suasana kampus menjadi lebih kondusif dengan pembinaan yang akan terus dilakukan.