Anggota kepolisian saat melakukan olah TKP sekaligus mengevakuasi salah satu korban kecelakaan yang meninggal dunia akibat terlibat kecelakaan (Dokumen MalangTIMES)
Anggota kepolisian saat melakukan olah TKP sekaligus mengevakuasi salah satu korban kecelakaan yang meninggal dunia akibat terlibat kecelakaan (Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Satlantas Polres Malang memetakan ada sedikitnya 6 kecamatan di Kabupaten Malang yang masuk dalam zona rawan kecelakaan. Ke-6 wilayah tersebut meliputi Kecamatan Singosari, Lawang, Pakisaji, Kepanjen, Bululawang, dan Turen.

Kanit Laka Lantas Polres Malang, Ipda Agus Yulianto, menjelaskan dari enam wilayah yang masuk zona rawan tersebut, Kecamatan Singosari dan Lawang menjadi daerah yang paling sering terjadi kecelakaan. Salah satunya di Jalan Raya Thamrin, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Tepatnya di kilometer 70-71.

”Karakteristik jalan yang lurus serta panjang namun bergelombang, ditambah arus lalu lintas biasanya marak terjadi kemacetan. Mengakibatkan potensi kecelakaan sering terjadi di seputaran akses jalan penghubung antara Kecamatan Lawang menuju Singosari tersebut,” terang anggota polisi yang akrab disapa Agus ini.

Jika dirata-rata, lanjut Agus, di setiap tahunnya ada sekitar 200 jiwa yang dinyatakan meninggal dunia akibat terlibat kecelakaan di wilayah Kabupaten Malang. Misalnya pada tahun 2019 lalu, saat itu Unit Laka Lantas Polres Malang menangani sedikitnya 798 kasus kecelakaan. ”Dari jumlah tersebut, tercatat ada 226 orang meninggal dunia akibat kecelakaan,” celetuk Agus.

Bergeser ke tahun 2018, jumlah kecelakaan relatif mengalami penurunan. Saat itu tercatat ada 767 kasus dan menyebabkan 193 orang meninggal dunia akibat menjadi korban kecelakaan.

Setahun sebelumnya, yakni pada tahun 2017 insiden kecelakaan terjadi sebanyak 904 kasus. Dimana, dari jumlah tersebut mengakibatkan sedikitnya 278 jiwa meninggal dunia setelah terlibat insiden kecelakaan yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang.

”Jika dirata-rata, dalam dua hari ada satu korban kecelakaan yang dinyatakan meninggal dunia,” terang Agus kepada MalangTIMES.com.

Terkait tingginya angka kecelakaan, Agus mengimbau kepada pengguna jalan agar senantiasa mematuhi peraturan lalu lintas. Sebab dari analisa kepolisian insiden kecelakaan biasanya diawali dengan pelanggaran lalu lintas. ”Misalnya melawan arus, mengendarai kendaraan di atas kecepatan normal (kebut-kebutan), hingga melanggar rambu lalu lintas,” jelasnya.

Mirisnya lagi, sambung Agus, para pelanggar lalu lintas tersebut biasanya juga tidak menghiraukan keselamatan diri saat berkendara. Seperti misalnya tidak mengenakan helm bagi R2 (sepeda motor), dan tidak menggenakan sabuk pengaman bagi R4 (mobil) maupun bus dan truk muatan.

”Hal semacam itu berdampak pada banyaknya korban kecelakaan yang meninggal dunia,” tutup Agus sembari mengimbau kepada pengguna jalan agar senantiasa menaati peraturan lalu lintas dan keselamatan berkendara.