Uang hasil gendam yang berhasil diamankan polisi (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Uang hasil gendam yang berhasil diamankan polisi (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, Kabupaten Malang marak terjadi kasus penipuan maupun pencurian. 

Dimana dari sebagian kasus yang ditangani polisi tersebut, diantaranya bermotif gendam. 

Jika dirata-rata, dalam setiap tahunnya ada sekitar 20 kasus gendam yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang.

Terbaru, pada minggu pertama di tahun 2020, kasus gendam kembali terjadi di wilayah Kabupaten Malang, Senin (6/1/2020). 

Tepatnya di salah satu toko perancangan yang berlokasi di Dusun Kedungwaru, Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare.

”Kasus pencurian bermotif gendam yang baru saja kami ungkap itu, dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri). Keduanya sempat berhasil mengambil uang senilai Rp 65 juta milik korban. Namun saat berupaya kabur, salah seorang pelaku berhasil diamankan dan kasusnya saat ini masih dikembangkan,” kata Kapolsek Kalipare, AKP Yusuf Suryadi.

Seorang pelaku gendam yang berhasil diamankan petugas tersebut bernama Sri Utami, warga Dusun Jakan, Desa Jedih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. 

Sedangkan seorang pelaku lainnya yang merupakan suami siri Sri Utami berhasil kabur, sesaat setelah istrinya diamankan korban beserta warga ketika berupaya kabur usai melakukan gendam.

”Tersangka yang berhasil kabur identitasnya sudah kami ketahui, petugas masih memburu keberadaan pelaku,” tegas anggota polisi yang akrab disapa Yusuf ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh MalangTIMES.com, pelaku kasus gendam yang berhasil kabur tersebut berinisil SO. 

Sedangkan korbannya bernama Nina Ike Ira Kurniawati, warga Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. 

Wanita 26 tahun itu merupakan pemilik toko yang dijadikan sasaran oleh kedua pelaku gendam.

Dari data yang dihimpun polisi, kejadian pencurian bermotif gendam ini terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. 

Saat itu, Sri Utami beserta SO yang tiba di lokasi kejadian langsung masuk kedalam toko dan membeli beberapa sembako.

Total, ada sekitar Rp 1 juta total belanjaan yang dibayarkan tersangka kepada korban. 

Bukannya pergi, Sri Utami yang sudah membayar dan mendapatkan barang belanjaan justru terus menerus mengajak korban mengobrol.

Anehnya, meski obrolan itu berlangsung cukup lama. Korban yang mulai terperdaya, selalu menjawab pertanyaan dalam obrolan yang diajukan oleh tersangka. 

Bahkan di sela obrolan tersangka juga sempat numpang ke kamar mandi.

”Dari pengakuannya, korban merasa linglung saat diajak mengobrol. Bahkan semua permintaan tersangka dituruti oleh korban,” terang Yusuf.

Menyadari jika korban sudah masuk perangkap, tersangka bergegas masuk kedalam toko dan membuka laci. 

Meski menyaksikan langsung aksi tersebut, nyatanya korban hanya diam dan tidak melarang tersangka saat membuka laci yang berisi uang hasil jualan miliknya.

”Total ada Rp 65 juta uang milik korban yang diambil oleh tersangka dari dalam laci. Uang hasil gendam itu dimasukkan kedalam tas milik tersangka,” sambung Yusuf yang juga pernah menjabat sebagai Kapolsek Tumpang ini.

Setelah mendapatkan uang, Sri Utami bergegas pamit dan meninggalkan korban. 

Tidak lama setelahnya, si pemilik toko itu akhirnya sadar dan berupaya mengejar tersangka yang berusaha kabur saat dibonceng oleh suami sirinya, yang sepanjang aksi gendam berlangsung menunggu di atas sepeda motor tersebut.

Warga yang mendengar teriakan maling dari mulut korban, seketika turut berupaya mengejar kedua pelaku. 

Sayangnya, meski sempat dihadang, hanya tersangka Sri Utami saja yang berhasil diamankan. 

Sedangkan si pengemudi motor, berhasil kabur dari kejaran warga.

”Tersangka SU (Sri Utami) berhasil ditarik oleh warga saat dibonceng oleh pelaku SO. Dalam kondisi terjatuh dari boncengan itulah, warga seketika mengamankan tersangka SU,” jelas Yusuf.

Dengan kondisi tangan lunglai akibat terjatuh dari sepeda motor, tersangka Sri Utami akhirnya diserahkan ke pihak kepolisian. 

”Dari pengakuannya, tersangka nekat melancarkan aksinya karena butuh uang untuk bayar hutang. Kami masih mendalami apakah ada lokasi dan korban lain yang juga menjadi sasaran gendam komplotan ini,” tegas perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ainun Djariyah, menuturkan jika kasus gendam memang masih marak terjadi di wilayah Kabupaten Malang. 

”Para pelaku gendam ini biasanya melancarkan aksinya untuk melakukan penipuan maupun pencurian. Setelah korban terperdaya, barang berharga milik korban akan dibawa kabur oleh para pelaku,” terang Ainun.

Perwira polisi dengan pangkat tiga balok di bahu ini menambahkan, jika melihat data yang dihimpun Polres Malang, rata-rata dalam setiap tahunnya ada sedikitnya 20 kasus penipuan dan pencurian bermotif gendam yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang.

Tercatat, pada 2018 lalu sebanyak 57 kasus penipuan yang ditangani polisi. 

Dari jumlah tersebut, 36 di antaranya merupakan penipuan online. 

Sedangkan sisanya, yakni 21 kasus merupakan tindak perkara penipuan bermotif gendam.

Setahun berselang, kasusnya bertambah menjadi sekitar 80 kasus di tahun 2019. 

Dimana dari jumlah tersebut, sedikitnya ada 20 an kasus penipuan dan pencurian bermotif gendam yang berhasil diungkap Polres Malang.

”Selain toko dan tempat jual beli seperti pasar tradisional, kawasan transportasi umum seperti terminal, stasiun, dan bandara juga sering menjadi sasaran para pelaku gendam. Paling marak terjadi pas hari besar, lebaran dan libur panjang seperti natal dan tahun baru,” tutup Ainun.