Ilustrasi banjir dan longsor yang jadi fokus Pemkab Malang hadapi bencana alam tahun 2020 (Ist)
Ilustrasi banjir dan longsor yang jadi fokus Pemkab Malang hadapi bencana alam tahun 2020 (Ist)

MALANGTIMES - Bencana alam banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Malang, jadi fokus perhatian orang nomor satu di Kabupaten Malang. Hal ini tak terlepas dari topografi Kabupaten Malang yang berupa pegunungan dan perbukitan serta dilalui atau dialiri sebanyak 44 sungai di berbagai wilayahnya. 

Selain itu, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, mencatat di tahun 2018 lalu sebanyak 71 bencana alam didominasi juga oleh banjir dan longsor. Selain angin puting beliung yang jadi bencana alam terbanyak sepanjang tahun 2018.

Di awal tahun 2020 ini pun berbagai peristiwa banjir telah menyapa di wilayah Malang Selatan yang memang menjadi langganan setiap tahunnya. Seperti di Sumbermanjing Wetan yang membuat kerugian material terbilang besar yakni ditaksir mencapai Rp 75 juta.

Dengan berbagai peristiwa tahun lalu itulah Bupati Malang Sanusi setelah acara apel kesiapan penanggulangan bencana hidrometeorologi di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Jumat (10/1/2020) meminta kepada seluruh masyarakat Kabupaten Malang, tak terkecuali petugas kebencanaan dan setiap unsur lainnya untuk tetap siaga dan waspada dengan kondisi cuaca saat ini.

"Awal tahun bencana alam khususnya banjir telah terjadi dimana-mana. Karena itu pula semua harus waspada. Tingkatkan kesiapsiagaan di seluruh lini, karena masalah bencana alam adalah masalah kita semua," ucap Sanusi.

Politisi PKB ini meminta agar fokus pada bencana alam banjir dan longsor yang dimungkinkan bisa kembali terjadi seperti beberapa tahun lalu.
"Dengan topografi kita, banjir dan longsor patut diwaspadai. Tak hanya di wilayah rawan bencana saja, tapi di seluruh wilayah Kabupaten Malang," tegasnya.

Sanusi pun meminta kepada masyarakat untuk semakin menguatkan kesadaran menjaga lingkungan sekitarnya. Yakni, tak membuang sampah sembarangan di sungai-sungai atau bahkan menutup drainase-drainase dengan beton. Pun penanaman pohon keras atau reboisasi di lahan-lahan gundul atau tak produktif, khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di wilayah perbukitan.

Pernyataan Sanusi ini pun diamini oleh Bambang Istiawan Kepala BPBD Kabupaten Malang, yang menyampaikan, pihaknya tak hanya fokus pada wilayah rawan banjir dan longsor yang jadi langganan setiap tahunnya. Yakni, di wilayah Ampelgading, Bantur, Donomulyo, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, dan Tirtoyudo. Tapi, di 33 wilayah kecamatan atau di seluruh wilayah Kabupaten Malang.

"Kita tak bisa sekarang hanya fokus di peta merah bencana saja. Karena bencana alam juga terjadi di wilayah lainnya. Di tahun 2018 lalu 2/3 wilayah terdampak bencana, jadi tentu kita memfokuskan di seluruh wilayah," ujar mantan Kasatpol PP Kabupaten Malang ini.

Bambang sesuai instruksi Sanusi pun telah mempersiapkan tiga pos lapang yang telah diaktifkan di awal musim hujan di akhir tahun 2019 lalu. Yakni di wilayah Ngantang, Poncokusumo, dan Donomulyo, dengan 6-8 petugas gabungan per pos-nya. Sedangkan  wilayah Malang Timur langsung di-cover  BPBD Kabupaten Malang. 

"Untuk kesiapsiagaan kita telah mengaktifkan pos lapang dan tentunya pantauan secara intensif di wilayah-wilayah tersebut. Sehingga saat terjadi bencana penanganannya bisa dilakukan secara cepat dan diharapkan bisa meminimalisasi kerugian material dan tentunya jiwa," ungkapnya.

Selain itu, BPBD juga memasang early warning sistem (EWS) atau alat peringatan dini guna mengantisipasi bencana banjir, yakni di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, serta di wilayah Dampit. Walau belum mampu menjangkau wilayah lainnya, pemasangan EWS yang berfungsi sebagai peringatan dini bila banjir datang, telah disiagakan.