Tersangka Sudiono alias Kaduk (baju tahanan warna oranye) saat menjalani proses penyidikan di kantor Mapolsek Kepanjen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Tersangka Sudiono alias Kaduk (baju tahanan warna oranye) saat menjalani proses penyidikan di kantor Mapolsek Kepanjen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berlagak berjalan dengan tertatih-tatih, Sudiono alias Kaduk nampak kebingungan saat digelandang petugas ke ruang penyidikan Unit Reskrim Polsek Kepanjen, Kamis (9/1/2020).

”Saya punya penyakit gula (diabetes), sudah sejak lama, lupa. Tapi 3 bulan lalu saya menjalani operasi, karena suruh terus minum obat tapi saya malah berhenti mengonsumsi obat gula. Akhirnya ada benjolan di pungung saya dan harus dioperasi,” dalih Kaduk sembari menunjuk punggungnya saat menjalani proses penyidikan di kantor Mapolsek Kepanjen.

Baca Juga : Awasi Napi Asimilasi, Polres Malang Bahas Bareng Kejari

Seperti yang sudah diberitakan, tersangka Kaduk diringkus petugas gabungan dari Unit Reskrim Polsek Kepanjen dan Buser Polres Malang, karena kasus penipuan dan penggelapan, Rabu (8/1/2020) dini hari.

Warga Dusun Wonokerto, Desa Sumberejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini, diamankan petugas setelah menjual truk hasil penipuan dan penggelapan milik korban.

Truk nopol AD-1632-YB yang digelapkan oleh tersangka, adalah milik Agus Purjianto, warga Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Dari hasil penyidikan, truk milik pria 46 tahun itu dijual oleh tersangka untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. ”Saya jual, laku Rp 50 juta,” celetuk tersangka Kaduk.

Uang yang semula hendak digunakan untuk berobat penyakit diabetes yang dialami Kaduk, justru habis digunakan untuk memenuhi hobinya. Yakni berjudi sabung ayam. Bahkan saking gemarnya berjudi, saat diamankan petugas menemukan pisau kecil yang biasanya dipasang di kaki ayam jago agar menang saat sabung ayam.

”Selain untuk bayar hutang, uangnya juga saya gunakan untuk judi ayam. Setelah menjual truk (hasil penipuan), saya kabur ke Jakarta. Biasanya saya kalau judi memang disana (Jakarta),” ungkap Kaduk dengan kondisi kedua tangan terborgol tersebut.

Tersangka yang sudah sering keluar masuk penjara dan merupakan residivis ini, mengaku jika uang hasil penjualan truk sudah habis hanya dalam sepekan. Sebab, selama berjudi sabung ayam tersangka mengaku sering kalah. Alhasil, uang yang sempat hendak digunakan untuk kontrol paska oprasi diabetes pun habis. ”Uangnya sudah tidak ada pak, sudah habis,” kata Kaduk saat dimintai keterangan penyidik.

Ditemui disaat bersamaan, Kanitreskrim Polsek Kepanjen, AKP Supriyadi, mengaku jika sampai saat ini pihaknya masih terus mendalami kasus penipuan yang dilakukan pria 52 tahun tersebut.

”Korbannya kemungkinan ada banyak, mengingat tersangka ini merupakan seorang residivis. Meski hanya mengaku sekali melakukan penipuan, tapi kasusnya akan tetap kami kembangkan,” tegas Supriyadi kepada MalangTIMES.com.

Sebelum diamankan karena kasus penipuan dan penggelapan, lanjut Supriyadi, tersangka Kaduk memang dikenal sebagai preman. Bahkan jaringannya tersebar dibeberap kota. ”Berdasarkan hasil penyidikan, tersangka diketahui sering meminta uang kepada pengemudi truk ekspedisi. Dalam sekali target, tersangka meminta sejumlah uang senilai Rp 720 ribu,” terang Supriyadi.

Baca Juga : Keluyuran dan Kembali Berbuat Kejahatan, Ini Sanksi yang Menanti Narapidana Asimilasi

Perlu diketahui, tersangka Kaduk ini memang mengaku kepada setiap pengemudi truk jika dirinya merupakan karyawan salah satu biro jasa pengawasan. Motif itu digunakan untuk menarik uang keamanan yang mencapai ratusan ribu tersebut.

”Kami tegaskan PT yang diakui biro pengawasan itu hanya fiktif. Jika ada yang masih ditarik uang keamanan jangan percaya. Jaringan tersangka memang banyak, tapi percayakan keamanan pada kami (polisi). Segera laporkan saja jika masih dimintai uang oleh biro fiktif tersebut,” ungkap Supriyadi.

Disisi lain, berkat sering menarget beberapa sopir truk tersebut, membuat tersangka Kaduk kenal dengan Agus Purjianto. Puncaknya pada akhir tahun 2019 lalu, korban meminta bantuan kepada Kaduk untuk menguruskan STNK yang ditahan polisi sebagai barang bukti karena ditilang setelah melakukan pelanggaran lalu lintas.

Kepada tersangka, Agus mengaku terpaksa tidak bisa mengikuti persidangan lantaran surat tilangnya hilang. Mendapat penawaran tersebut, Kaduk seketika menyanggupinya. Pria yang berusia lebih dari kepala lima itu mengaku jika punya kenalan jaksa. Padahal itu hanya karangan tersangka saja.

Meski demikian, korban nyatanya tetap percaya dan bersedia menuruti persyaratan agar STNK-nya bisa dikembalikan. Persyaratan yang diajukan oleh tersangka, diantaranya adalah menyerahkan truk sesuai dengan yang tertera pada STNK yang ditilang oleh polisi.

Bukannya terurus, truk yang diserahkan tersangka justru dibawa kabur. Merasa tertipu, kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Beberapa pekan kemudian, polisi yang mendapat informasi kepulangan tersangka dari Jalarta langsung meringkusnya.

”Atas perbuatannya, tersangka kami jerat dengan pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan. Ancamannya diatas 4 tahun kurungan penjara,” tutup Supriyadi.